Minggu, 21 Desember 2008

MONOLOG

ATAS NAMA DOA atawa SENYUM LASTRI
Karya: Lintang Ismaya


RUANG PENJARA. PESAKITAN TAMPAK TIDUR SEPERTI ANJING. DARI ATAS LANGIT-LANGIT JATUH BUKU DAN BOLPOINT MENIMPA MUKANYA. TERDENGAR SUARA SESEORANG: Besok, hari terindahmu, --menghadapi duabelas regu pasukan tembak. Tulislah biografi hidupmu, biar semuanya jelas. Siapa tahu kau jadi figure yang fantastic bagi generasi mendatang? ORANG ITU TERTAWA.

PESAKITAN BANGUN SECARA PERLAHAN-LAHAN. MELIHAT SEKITAR. MELIHAT KE ARAH SUMBER SUARA. MENGAMBIL BUKU DAN BOLPOINT. PESAKITAN TERTAWA LEPAS. BERNYANYI-NYANYI RIANG. SEPERTI MENULISKAN SESUATU DI DALAM BUKU TERSEBUT.

Seseorang datang dan pergi di kehidupanku. Seperti angin waktu yang kerap menyimpan ribuan rahasia. Begitulah adanya hidupku. Aku terbentuk. Terpatok. Terpenjara. Terkontaminasi. Terseok-seok. Menjadi sesosok diriku. Lahir dan tumbuh, sampai akhirnya terpatri di tempat ini. BANGKIT. MENCARI PUNTUNG ROKOK DAN MENYALAKANNYA. MEMAINKAN ASAPNYA. TERTAWA. MENARI-NARI KECIL BAK BALERINA.

Sejarah. Yap. Semua orang pada akhirnya sama; saling berebut tentang sejarah. Menuliskannya pada lembar demi lembar buku sejarah. Tanpa peduli ada yang membacanya. Bahkan tidak menutup kemungkinan, hanya dibaca oleh diri kita sendiri. SEPERTI MENDENGAR SUARA. Apa? Yap. Benar. Pendapat anda benar sekali? Bukankah di hadapan Sang Pencipta, yang kita sodorkan dan diperiksa adalah lembar demi lembar sejarah hidup dan kehidupan kita? Itulah fungsinya malaikat, sebagai asisten kita yang dianugrahkan dari Sang Pencipta. HENING SEJENAK. TIBA-TIBA SEPERTI MENGAMUK Asu. Bangsat. Apa peduliku dengan dogma-dogma? Ketika lonceng gereja berbunyi, tak ada lagi biara-biara suci. Tak adalagi nyanyian koor. Ketika gema adzan berkumandang, tak adalagi kiai yang membawa santri-santinya untuk berjamaah. LANTANG SUARANYA Aggggggggggh,… EMOSINYA MENINGGI. Ibuku, baru saja satu hari meninggal, bapaku sudah kawin lagi. Aku dan adikku ditendangnya dari rumah. Agama. Apa yang aku dapat dari pemahaman nilai-nilai religious yang ditanam sejak kecil oleh ibu dan bapakku? Sementara kelakuan bapakku tak ubahnya anjing! SEPEERTI MENDENGAR ORANG BERBICARA. LIRIK KANAN LIRIK KIRI. KEPALA DAN TUBUHNYA BERPUTAR-PUTAR. SUARA-SUARA ITU SEMAKIN TAJAM MENGHUJAMI PIKIRANYA “KASIH INSPIRASI MUSIK”. Diam! Tidak! Aku tidak sensitrif? Tapi aku bernbicara fakta. Jangan menghakimi aku begitu rupa? Ini urusan pribadiku. Apa hak kalian? Kalaulah ayah dan ibu tiriku Mati ditanganku, bukan semata-mata alasan klise, balas dendam. Tetapi ini murni sebagai bahasa nurani. Aku tidak bersekutu dengan setan! Kasihan dong iblis, jadi kambing hitam terus? Ini naluriku untuk bertindak KEPADA PENONTON. KEPADA ORANG-ORANG YANG ADA DALAM IMAJINASINYA. Wah kacau rupanya kalian tidak hatam dengan doa? Doa itu perbuatan. Doa itu keinginan. Doa itu angan-angan. Doa itu harapan. Doa itu tingkah-laku kita. Itulah kemurahan Sang Pencipta, atas hidup kita? SEPETRTI MENDENGAR SUARA-SUARA YANG MENGHUJAT. MENUTUPI TELINGA BERPUTAR-PUTAR. GELISAH. Stop. Stop. Kenapa kalian jadi membela bapak dan ibu tiriku? Tindakan dan keinginanku beda benar dengan perbuatan bapak dan ibu tiriku. Bapak dan ibu tiriku kawin, adalah keinginan setan bukan doa. Kalau aku barulah doa,… ,… ,… Lho. Lho kenapa kalian bergembira dengan mentertawakanku? Apa kata-kataku salah? Hak azasi dong? Prerogative dong? Kreatif dong? Inovatif dong? Ah,… kalian bisanya tertawa melulu, benci dech aku? Sebel dech aku, muak-muak, muaaaaaaak tahuuuu? TIBA-TIBA DIA MENANGIS “SUASANA MUSIK DAN LAMPU IKUT MENGIRINGI KESEDIHAN HATINYA”. Tak ada yang lebih mulya dari hati seorang ibu. Ibu adalah tetimang kita di kala kita sedang dibenturkan masalah. Ibu adalah satu-satunya sorga dalam kehidupan dunia. HENING. Aku pernah mukim di sebuah pondok, mendalami nilai-nilai religius. Dimana betapa mulya posisinya seorang ibu bagi kita. Kalian tahu? Hei,… KEPADA PENONTON. Kalian tahu tidak? Kalau tidak tau, makanya dengarkan! Kalau sudah tau, seguru seilmu makanya jangan saling mengganggu ok? Sebab ini adalah sesuatu yang sakral, maka aku harus berdoa dulu. MULUTNYA BERKOMAT KAMIT SEPERTI SEDANG MERAJAH. Berapa literkah susu ibu yang terhisap dan diminum oleh kita? Berapa kotoran kitaklah yang terkecapkan dan termakam oleh ibu kita? Ketika ibu kita sedang makan? Dan kita menangis karcena pipis atau boker? Ibu berhenti dari makannya. Melayani kita. Lalu ibu melanjutkan makanya. Ih,… gak kebayang dech betapa joroknya kotoran kita termakan oleh ibu kita? SUARANYA MENINGGI. Aku tidak mau disebut durhaka. Aku tidak mau dibilang jadah. Aku tidak mau mengamalkan aji air susu dibalas dengan air tuba. Itulah sebabnya, kenapa aku membunuh bapak dan ibu tiriku sekaligus. Bukan semata-mata gelap mata, melainkan aku anak sholihah! Untuk saat ini kalian boleh tertawa atas penjelasanku. Sebab kalian tidak pernah mengalami hal sepertiku. Doaku pada kalian; cepat-cepatlah kalian mengalami kisah sepertiku, biar tau mana hitam, mana putih, mana yang namanya abu-abu. HENING. Pada suatu malam nan lembab, panjang dan dingin. Ketika seakan-akan benda-benda yang ada dihadapanku bergoyang. Atas kabar kematian ibuku, aku mendengar, aku melihat seulas senyum tersungging dari bibir bapak yang tebal, berlapis nikotin. Aku tak paham, tentang sesunging senyum itu, apakah ia berusaha menenangkan pikiranku? Aku bukanlah orang baik, tapi aku berusaha menjadi baik. Di luar sepengetahuan bapak dan ibuku; aku adalah pencadu narkoba, peminum minum-minuman keras, sesekali aku main permpuan dan judi, sebagai tambahanya. Jalan hidup yang aku tempuh, bagiku adalah wajar dan syah untuk dilakukan, sebab hidup adalah pilihan bukan? Seperti kedua orang tuaku yang memaksaku harus kuliah, demi sebuah prestisius di kehidupan bermasyarakat. Dan keinginan-keinginan yang bergejolak di kedalaman dada ini, adalah fitrahNya yang diberikan pada kita? Kalian boleh lho mencontoh dan meniru atau menjadi imitasiku? Atau meniru hidup seperti ibuku? Ibuku lahir dari keluarga terpandang, displin ilmunya tinggi, pemahaman nilai-nilai religiousnya sangat mantap. Kekayaan orang tuanya tak tertandingi di kota ini. Namun itu semua tidak menjadikan sosok ibu lupa pada nilai-nilai nas Sang Pencipta. HENING. Sedang bapaku, lahir dari kalangan strata sederhana. Ia adalah sopir pribadi ibuku, dikala ibuku masih perawan. Entah kenapa, siapa yang memulai, siapa yang menanamkan benih-benih cinta di hati mereka, posisi majikan dan pembatu, --berubah gembira: menjadi pasangan suami istri. Sampai akhirnya aku terlahir sebagai anak pertama, yang memilih hidup di jalur generasi koplo. Lima tahun berselang; lahirlah adiku satu-satunya. Adikku berjenis kelamin perempuan. Kecantikanya, sama seperti ibuku. Untungnya bibir adiku tipis. Tak kebayang kalau bibirnya tebal sepeti bapaku? Pasti adikku akan disebut sibibir jeding olehku? HENING. Aku sangat menyayangi adiku. Kemanapun ia pergi, aku kerap berada disampingnya. Walau awal-awal kelahiranya; aku sangat dibikin cemburu, sebab ibu dan bapaku jadi lebih perhatian pada dia. Adikku bernama Lastri Kinasih. HENING Kata ibuku: Lastri diambil dari kata lestari dan Kinasih diambil dari kata KEPADA PENONBTON Apa coba? Nah. Betul! Seratus, tus, tus,… dari kata kasih. Dimana penjabaran ibuku selanjutnya; Lastri Kinansih adalah sifat Sang Pencipta yang selalu menggabulkan doa-doa kita? Terutama doaku yang telah dikabulkaNya, --atas pembunuhan bapak dan ibutiriku. Betapa indah kasih Sang Pencipta. Betapa nikmat kepercayaan Sang Pencipta yang dibebankan di pundakku; aku bertindak sebagai algojoNya, untuk mencabut nyawa bapak dan ibu tiriku sekaligus dalam hari itu juga. HENING. KETAWA Lastri kecil perlahan-lahan tumbuh menjadi bunga desa. Kencantikanya harum mewangi, --menjadi momok sekampung. Sempat beberapa kali, Lastri hendak menjadi korban pemerkosaan, tapi untunglah aku kerap memergokinya. Bukan hanya hendak diperkosa oleh teman-temanya. Orang asing. Bahkan bapaku sendiri. Sejak saat itu, naluriku untuk membunuh tumbuh secara diam-diam; semua laki-laki yang mencoba melakukan tindak kriminal pada Lastri, tak ada yang selamat di tanganku; aku habisi nyawa mereka. Aku membunuhnya. Lastri tahu semuanya, namun Lastri diam. Dia tidak melaporkanku pada yang berwajib. Bahkan, ketika aku memergoki bapak mau memperkosanya, Lastri membela bapaku: “mas jangan sampai ibu tau tentang hal ini. Cukuplah kita saja yang tahu, kasian ibu. Pasti ibu syok berat mendengarnya? Lastri mohon sekali lagi padamu mas, Lastri mohon, bapak kita jangan kau bunuh, seperti lelaki-lelaki lainya?” Begitulah permohonan Lastri padaku. HENING. Detik jam, mendorong usia bumi. Bunga-bunga layu di mata. Usia dimakan masa. Ketika cinta sedang menuju puncaknya, kami sekeluarega tak bisa memandang dengan jernih. Kematian ibukulah, pangkal dari semua ini. Lastri syok atas kematian ibu. Jangankan Lastri, aku sendiri pun mewek termehek-mehek, --tato, anting dan rambut gimbalku, tak bisa menahan air mataku yang jatuh di hadapan jasad ibuku. HENING. Satu hari kemudian, dari kematian ibuku; barulah bapaku menikah kembali, Lastri kian defresi, sering tertawa sendiri, mukanya garang. Sesekali terlihat sendu. MENITIKAN AIR MATA. HENING. Hari berikutnya, setelah kami dikenalkan dengan ibu tiri kami; bapakku mengusir kami, dengan alasan tak ada hak waris untuk kami. Yang lebih menyakitkan, bahwa kami bukan darah dagingnya? Itulah sebabnya mengapa bapak berani melahirkan tindakan pemerkosaan pada Lastri? BANGKIT. BERANG. SEPERTI MENCEKIK LEHER BAPAKNYA. Bangsat. Asu. Jancuok. Orangtua biadab. Leher bapakku, aku cekik sekuat tenaga; namun adiku berteriak, bangkit dari duduknya: “ingat mas, mungkin ini sudah jalan takdir kita? mesti mas pernah bercerita tentang proses kelahiran kita yang sama keluar dari rahim ibu kita dan lelaki yang dihadapan kita saat ini, --selama ini, kita menyebutnya bapak kita? Bisa jadi, perkataan lelaki ini, benar adanya?” HENING. Dengan berat hati pikir dan rasa; hari itu juga, kami meninggalkan rumah besar ala arsitektur belanda. Kata almarhum ibuku, rumah itu sebagai hadiah perkawinan dari kedua orang tuanya yang kini sudah sama-sama tidur tenang di kedalaman tanah bersama ibuku. Kami tidak mengetahui alasan yang pasti, mengapa rumah itu jadi hak milik bapaku? Terlebih-lebih lagi, ketidakmengertianku; mengapa kami, tidak mewarisi darah daging bapakku? Apkah mungkin lelaki yang kusebut bapaku itu mandul? Lalu siapa bapak kami yang sebenarnya? Malam itu, bagi kami laksana kawah luka. Figure Bapak yang tegas. Sosok ibu yang nyantri, semuanya lenyap, ditelan duka raya. Tak ada kebanggaan dengan nilai-nilai. Kami berjalan menyusuri jalan hitam, melewati hutan lambang. Tiba dipersimpangan, tiga kelokan dari kost, di dekat tempatku kuliah: sambil istirahat; Lastri membuka percakapan “mas, mungkin ini sebabnya, mengapa ibu mau menikahi bapak, --padahal bapak sopirnya ibu? Adakah ibu kita sebinal itu, hamil diluar nikah, sebelum kawin dengan bapak? Dan kau mas, bukan anak bapak? Pun demikian aku, bukan anak bapak pula, lantas siapa bapak kita sebenarnya mas? Adakah lelaki yang dianggap bapak kita selama ini, adalah penutup aib ibu kita? Bukankah dia, dulunya sopir ibu kita? Dan rumah itu adalah pil tutup mulut buat lelaki yang selama ini kita anggap sebagai bapak?” Aku tak bisa menjawabnya dengan tegas, nyaris tak ada jawaban, selain suara nafasku, kian tak terpacu degupnya. Bahkan saat itu, aku takut dengan suara nafasku sendiri. “mas, kau masih ingat, ketika bapak mau memperkosaku? Waktu itu, kau hendak membunuhnya demi kehormatanku, namun aku melarangnya untuk kau habisi? Kini sudah jelas semuanya, bahwa dia bukan bapak kita. Mas, mengapa tidak kau bunuh saja dia sekarang?” Mendengar pemaparan berikutnya, naluri membunuhku gairah kembali, dalam hatiku, aku menyanggupi keinginan adiku itu. Satu minggu kemudian, tanpa sepengetahuan Lastri, aku membunuh bapak dan ibu tiriku. BEREKPRESI MEMPRAKTEKAN MEMBUNUH. Agh,… agh,… dengan tujuh kali tusukan yang tepat mengena, di arah jantung bapak, bapak mati dengan belati. Sedangkan ibu tiriku, aku tebas lehernya dengan golok, sampai putus. Aku sudah terbilang professional untuk membunuh, tak ada jejak yang aku tinggalkan untuk di dengus polisi. Semua berjalan lancar dan sempurna; sampai aku kembali ke rumah kostanku di kota; tak satupun yang tahu, bahwa akulah pembunuhnya, termasuk Lastri. Tiga hari dari sana, orang sekampung digegerkan dengan bau bangkai yang tidak lain dari rumah kami. Tetangga yang tau tempat kami bermukim, memberitahu kami; bahwa kemungkinan besar, --berdasarkan penyelidikan polisi, rumah orangtua kami kemasukan rampok. Memang benar, disamping aku membunuh mereka; aku pun merampoknya, yah,… lumayanlah, untuk bekal kami hidup di kota. Wajarkan? Anak yang dibuang gitchu lho? Sampai penyelidikan polisi usai. Sampai kami kembali kerumah tersebut. Lastri tidak tau, bahwa itu semua atas perbuatanku yang mengabulkan doanya. “Sang Pencipta telah membalaskan dendam untuk kita Lastri?” Itu kata-kata terindah yang keluar dari rahim mulutku, untuknya. Lastri tak berkomentar. HENING. Hari melipat hari. Gulungan ingatan. Detik jam mengubah segalanya; aku melihat Lastri kian seperti aku. Perangainya yang lembut mirip kebijakan ibu dalam berbagai hal; berubah total menjadi 180 derajat, aku heran, apa yang harus aku larang, sementara ucap dan lakuku pun bukan contoh yang baik bagi Lastri? Sempat aku berfikir, adakah aku dan Lastri, mewarisi darah psikopat, darah pemberangus, darah pemabuk, darah Dracula dari ibu atau bapak kandungku yang asli, berdasarkan cerita lelaki itu, yang selama ini kami anggap sebagai bapak kandungku sendiri? Entahlah. Kini Lastri suka mabuk-mabukan, tak ada lagi ayat-ayat kauniah yang keluar dari mulutnya, bila menjelang senja. Lastri jadi rakus. Liar. Ganas. Serta sudah lupa antara hubungan darah, sampai akhirnya kami melambang sari. Di sisi lain, kali pertama kami melakukan gituan, ada perasaan tak nyaman. Yah, takut-takut gitu dech, gelisahnya seperti kali pertama aku membunuh, tapi kesininya jadi ketagihan lho? Iiiih,… gereget dech aku: gereget, geret dan gereget,… banget, ---bila Lastri mualai merajuk. SADAR. Oh, hampir saja lupa: di sisi lain, aku punya kebanggan tersendiri, --sebagai naluriku seorang laki-laki; aku merasa bangga bisa menjebol gawang perawan bunga desa. MEMPERAKTEKKAN SENGGAMA. HENING. Di malam yang lain setelah pesta koplo yang dibasuh nafsu purbawi, sebagai kesempurnaan pesta. Tanpa sadar, aku bercerita pada Lastri, bahwa akulah yang telah menmbunuh bapak dan ibu tiri kami. HENING. Pagi hari nan bening, ketika kicau burung dan hangat mentari menyapa seluruh penghuni bumi bagian timur, bukan barat. Ketika aku sedang terlelap tidur, lagi asyik-asyiknya bermimpi dengan bidadari; sepasukan polisi mengepung rumah kami dan aku ditangkapnya. Tak ada celah untuk aku meloloskan diri dari kepungan polisi. Di berada rumah, ketika tanganku lemah dalam borgol; aku lihat, sesungging senyum seorang lelaki, yang selama ini kami anggap bapak, mekar dibibir Lastri. Apakah ia berusaha menenangkan pikiranku? BERTERIAK. Agh,… bajingan kamu Lastri. Kau khianat. Bangsat! Bukankah semua kematian mereka, atas keinginan doa-doamu selama ini? Bedebah! Jancuok! ***101208***
________
Catatan: teks dalam naskah ini bisa dirubah oleh si penggarap, --dengan tidak mengurangi benang merahnya.



____________
lintang Ismaya, salah satu nama pena dari sembilan nama pena yang dimiliki oleh Doni Muhamad Nur. Lahir di Tasikmalaya pada tanggal 01 Oktober 1979. Alumni STSI bandung pada jurusan teater. Masih membujang. Puisi, cerpen, laporan reportase, esai, kritrik seni yang ditulisnya tersebar di berbagai media cetak, baik terbitan lokal, daerah maupun nasional. Disamping itu, ia juga menulis novel, naskah sinetron dan film. Sesekali menyutradarai teater, videoclip dan sinetron.


Lebih Lanjut..

Kamis, 09 Oktober 2008

UNTUK KAU BACA "side 6"

Merahnya Ungu
cerpen: Lintang Ismaya


Angin itu datang tiap waktu, dari berbagai penjuru. Berputar. Ada yang dari barat. Kali ini, angin kembali datang dari timur. Musim demi musim silih menyilih, masing-masing menawarkan ribuan mimpi. Burung-burung terbang, mengikuti angin musim. Harapan demi harapan mekar. Keabadian hanya ada dalam kenangan.
Masih kusimpan, saputangan yang menyimpan air mata, –luka batihnmu. Malam itu; mengunjungi bola matamu, tak kutemukan lagi warna pelangi. Binar-binal manja kekanak-kanakkanmu kepadaku, –tak mencuat kepermukaan. Ada apa denganmu?
Sarang laba-laba jadi tabir di pintu bola matamu yang purnama. Bentangan-bentangan jaringnya membentuk irisan cahaya, semacam warna pelangi. Ada matahari di belakangnya, –semacam bola api dendam. Ada apa denganmu?
Kenapa estetika bola matamu diganti dengan motif matahari yang dijaring sarang laba-laba? Meski benang-benang halus sutra laba-laba memantul bias matahari, –memancarkan indah komposisi pelangi. Namun itu bukan pelangi yang biasa aku temukan di binar-binal bola matamu. Ada apa denganmu? Kehilangan pelangikah seperti aku?
Hei,.. adakah dikau mengganti kedua bola matamu saat musim liburan panjang? Musim apa yang sedang mengatmosfir di kedua bolamatamu kini? Tancap kayon sudah aku digiring fijar matamu, –mengembara ke negeri enigma. Bicaralah?
Tak henti-henti air matamu mengalir, haruskah setiap luka kerap dibasuh tangisan? Tidak. Selalu saja ada kelokkan dalam menempuh ini hidup, begitulah, –kenyataan tak seindah yang dibayangkan. Ada batas-batas yang tak bisa ditembus dengan logika. Kau tahu? Kesadaran tertinggi adalah pasrah dalam segala hal. Benar, kita sudah mengetahuinya, persoalannya sekarang adalah, –tentang perakteknya.
Look. Lihat-lah, lengan kirimu sekarang bertato. Tato bunga melati, –berhias motif bulu cendrawasih. Sejak kapan kau jadi liar? Melati?
Shell we get married? Maukah kita menikah?”
But Why are you asking? Kenapa kamu bertanya?”
Tatto. Do you want to get married? Tato. Apakah kamu ingin menikah?”
“Aku pernah berpikir tentang perkawinan, tentang keluarga, tentang hidup berumah tangga. Itu dulu. Belakangan ini tidak pernah terpikirkan lagi?”
**
Angin itu datang tiap waktu, dari berbagai penjuru. Berputar. Ada yang dari barat. Kali ini, angin kembali datang dari timur. Daun-daun dipangkas angin dari tangkainya, –melayang-layang tak jelas gerak dan arahnya, sebelum akhirnya jatuh ke bumi. Guguran demi guguran daun, diasuh detik; menjadi humus. Menyuburkan pohon. Melahirkan pohon. Memberi harapan baru. Keyakinan hanya ada dalam diri.
Keabadian itu tak ada dalam pertarungan hidup. Yang ada hanyalah kemuliyaan, dimana suatu problem adalah arena perjudian dibungkus cuaca hati. Dimanapun aku berpijak, di sanalah rumahku dalam naungan sukma tanpa area kata-kata sebab nurani telah terpatri di dasar jiwa.
Sendiri menemu sepi dalam mimpi. Aku yang terpaut dalam galau hati, entah kekuatan apa yang menggali inti rasa, tiba-tiba saja aku terjerat asmara. Aneh memang, –adakah ini yang dinamakan: demikian rahasia hari-hari yang kita lewati? Padahalal diri ini merindu hadirnya entah, –bukan itu.
Infatuation, ketertarikan sesaat. Ketertarikan sesaat? Hanya tergila-gila sebentar, belum sampai tingkat ketidakwarasan. Kewarasan adalah keadaan otak dan cinta melampaui otak. Rasio, logika dan apa saja yang berasal dari otak, –cinta melampaui semuanya. Lalu apa yang menjadi dasar bagi hubungan seperti itu? Infatuation atau ketertarikan sesaat harus berlandaskan sesuatu. Apalagi kalau bukan badan? Satu badan menarik badan yang lain. Satu badan terasa menarik oleh badan yang lain. Satu badan tertarik pada badan yang lain. Seks? Mungkin?
Pikiranku melayang, terkenang pada kisah Sapo, Cynaro de Bergerac, Hamlet; mungkin itu cinta? Yap, tentu cinta; sehingga bisa melampaui batas-batas kelahiran dan kematian. Itu sebabnya cinta disebut abadi?
“By the way. Ngomong-ngomong. Semalam aku berpikir tentang hubungan kita. Selama beberapa hari ini, kita jalan bersama. Setiap hari bertemu. Lalu aku berupaya untuk melihat ke dalam diri. Perasaan apa yang aku miliki terhadapmu. Cinta? Ups, rasanya terasa sulit untuk menjelaskan perasaanku dengan satu kata ‘cinta’. Ada caring—kepedulian. Ada keinginan untuk sharing—berbagi rasa. Ada cinta, ada persahabatan, ada rasa hormat. Bahkan, ada juga rasa rindu kalau belum menerima telephone atau SMS darimu. Campur aduk rasanya. Kita memang tidak merasa saling memiliki, tapi kita sering merasa kehilangan?”
“Sudahlah, jangan berfikir banyak. Tidak perlu memberi nama kepada hubungan kita. Yang jelas bukan seks. Bukan pula cinta. Mungkin kasih?”
“Lalu apa definisi kasih?”
“Akupun tidak tahu. Tak terjelaskan. Kata orang shaleh, kasih itu Allah?”
“Lalu bagaimana menjelaskan Allah?”
“Seperti yang kau bilang; kita memang tidak merasa saling memiliki, tapi kita sering merasa kehilangan. Mungkin?”
“Siapa yang menciptakan kasih?”
“Allah?”
“Kalau begitu, yang diciptakan harus menjaga yang menciptakannya?”
“Maksudmu?”
Shell we get married? Maukah kita menikah?”
But Why are you asking? Kenapa kamu bertanya?”
Kasih. Do you want to get married? Kasih. Apakah kamu ingin menikah?”
“Aku pernah berpikir tentang perkawinan, tentang keluarga, tentang hidup berumah tangga. Itu dulu. Belakangan ini tidak pernah terpikirkan lagi?”
**
Angin itu datang tiap waktu, dari berbagai penjuru. Berputar. Ada yang dari barat. Kali ini, angin kembali datang dari timur. Wangi mawar diterbangkan angin. Terhisap parat ke liang nyawa. Menyengat. Seperti ayat-ayat kauniah, kian aku meraba abatatsa, tafsir demi tafsir mekar, melahap pikir dan rasa, detak jantung tak teratur pacunya; rindu cahaya maha cahaya. Risalah hidup manusia adalah kejelasan.
Ada yang mencintaimu sendirian saja, ketika kau sedang kuncup. Ada yang mencintaimu beramai-ramai, ketika kau mekar dan mulai merajuk, siapa yang akan mencintaimu, ketika kau mulai layu dan membusuk?
Aku kenali engkau, wahai wajah angkuh namun sesungguhnya di hatimu menyimpan gelisah. Aku kenali engkau dari ketegaran raga bak batu karang tahan gelombang di lutan, namun sebenarnya jiwamu rapuh. Diplomasi dalam meja kantor, pemecahan masalah, konsultan, tak diragukan lagi, feminisme adalah trade mark dirimu. Nyaris tak ada cinta di wajahmu. Tidak merindukan datangnya seorang pemimpin, untuk melunaskan kesepian demi kesepian hari-harimu. Aku tahu, dibalik topeng siangmu; setiap malam, sambil tiduran, kau habiskan membaca buku-buku novel, kisah-kisah romantik, menghayal tentang terjadinya prosesi sebuah pernikahan yang begitu takjub, ajib dan sempurna.
Para bidadari bertindak sebagai pendampingmu, dan mengangkatkan gaun pengantinmu. Di belakangnya para bidadara bersikap kesatria, mengawal engkau, yang riang bersepuh harap-harap cemas, menunggu kedatangan pangeran pilihan hati.
O, aku tahu semua itu dari sorot matamu. Aku tahu semua itu dari bantal-guling yang kau keloni, menyisakan karat purba yang amis telur. Jangan kau dustakan diri dengan kedok keangkuhanmu. Ketegaran batu karang di lautan yang kau hisap menjadi sari pati tubuhmu, sesungguhnya itu semua ketidak berdayaanmu, menghadapi realita.
Semakin kau menghindar dari kenyataaan hidup, kian jauh dari angan-angan yang kau cita-citakan. Pejamkan matamu, menyelamlah kedasar laut pikiranmu, biarkan kejujuran berbicara apa adanya. Sebab di sana tersimpan cahaya Illahi.
“Hiburlah hatimu waktu demi waktu,… karena hati yang lelah akan buta. Cinta apa yang sedang kau tunggu? Kasih apa yang sedang kau nanti? Siapa yang menggerakkan pikir dan rasa?”
“HujahNya!”
Shell we get married? Maukah kita menikah?”
But Why are you asking? Kenapa kamu bertanya?”
HujahNya. Do you want to get married? HujahNya. Apakah kamu ingin menikah?”
“Aku pernah berpikir tentang perkawinan, tentang keluarga, tentang hidup berumah tangga. Itu dulu. Belakangan ini tidak pernah terpikirkan lagi?”
“Janganlah berhenti di terminal pengalaman. Setiap terminal harus dilewati, dilalui; ditinggalkan demi perjalanan itu sendiri. Kebebasan dari terminal pengalaman, itulah hujahNya. Itulah kebebasan sejati!”
“Tapi kita terpatok nada; sahabat?”
“Sssst,… I love’u?”
Angin itu datang tiap waktu, dari berbagai penjuru. Berputar. Ada yang dari barat. Rab, kali ini, angin kembali datang dari timur. Warna pelangi di bola mata kita, yang sempat menghilang, kini kembali kita temukan; di hujahNya!*** bumiemih, 30092008



________
Lintang Ismaya. Nama pena dari Doni Muhamad Nur, Lahir di Tasikmalaya pada tanggal 01 oktober 1979 dari pasangan alm. Y. Yuhana Sulaiman dan Rd. Sarah Solihati. Baginya: menulis puisi, Cerpen, esai, artikel kebudayaan, naskah drama, naskah sinetron dan film adalah keisengannya yang menjadi kebiasaan disenggang waktu, –dalam menghabiskan sisa umur atas karunia-Nya. Sempat jadi redaktur khusus di majalah Seni & Budaya “Suara Cangkurileung Bandung” dari tahun 2002-2004 dan kameramen “Magang” di Pusat pendokumentasian Audio Visual STSI Bandung. Pada tahun 2007, bekerja sebagai skrip & director di taZtv. Tahun 2008, sebagai pembina kesenian, program DISBUDPAR JABAR gawe bareng PUSLITMAS STSI Bandung, merevitalisasi Angklung Badud yang sudah hidup ± 130 tahun. Adapun tulisan prosanya tersebar dan hadir diberbagai terbitan mass-media, baik nasional, daerah, maupun lokal. Alumni STSI (non semester) Bandung pada Jurusan Teater, –Program Studi Penulisan. Adapun antologi puisinya yang telah terbit diantaranya: Orasi Kue Serabi (GKT 2000) Bandung dalam Puisi (YJBS 2001, 2002) Enam Penyair meminum Aspal (SST 2002) Poligami (SST 2003) “antologi penyair Jawa Barat-Bali” ROH (bukupop 2005) dan beberapa Antologi puisi lainnya. Adapun novelnya yang akan segera terbit dengan judul HypoCritE & Sekeranjang Cinta. Kini beliau menjabat sebagai Presiden Komunitas mEdoMe Bandung, Ketua Umum Indonesia Bangkit Persada Enterprise Tasikmalaya dan Instruktur Teater Dongkrak Tasikmalaya. ***

Lebih Lanjut..

Sabtu, 20 September 2008

UNTUK KAU BACA "side 5"

Lintang Ismaya

KEPADA PENYAIR PUNK
--Ratna Ayu Budhiarti--

Pipi kiri bertato melati
Rambut mohek sewarna darah
Hidung tertancap paku
Tipis bibir bawah menggelayut gelang

Kulit lengan penuh tato
Tubuh ceking kurus
Berabad-abad mencari cinta
Menangis di persimpangan

Gulungan kenagan
Jalan-jalan salah alamat;
“kepada cinta, aku telah
tenggelam dalam tiada”
Teriaknya.

Langkah-langkah dipatahkan
Waktu
Detik jam mendorong bumi;
”aku akan tetap mencintai-Mu
karena hanya Engkau yang sanggup membuatku
tiada dan tenggelam di lautan kebesaran-Mu”
Isaknya.

Kembali pada titik nol
Fantastik!

2008




Lebih Lanjut..

Senin, 15 September 2008

UNTUK KAU BACA "side 4"

M A H A B A H

"biarkan bathin ini menangis dan berhenti dengan sendirinya"

1.

ada yang mencintaimu sendirian saja

ketika kau sedang kuncup

ada yang mencintaimu beramai-ramai

ketika kau mulai mekar dan merajuk

siapa yang akan mencintaimu

ketika kau layu

dan mulai membusuk?

2.

siapa yang mendatangkan cinta diantara kalian?

pada prinsipnya yang diciptakan harus menjaga penciptaNya

begitulah proses alam yang sebenarnya dalam konsep mahabah

kita sedikit berfilsafat dalam kontek keyakinan padaNya!

3.

aku paham dengan seluruh isyarat yang salah alamat

kata-kata tak menemu makna dalam pencarianku

tapi siapa yang bisa menghanguskan keyakinan

ketika dian itu dinyalakan tak terduga adanya

demikianlah yang diciptakan mendapat titipan

dari yang menciptakanNya

biarkan aku menjadi setitik debu yang mungkin

mengotori baju kebesaranmu

biarkan debu itu menemu titik klimak kejatuhannya

dimana yang menciptakan kita punya kehendak

hanya takdirNyalah yang bisa meruntuhkan keyakinan

mungkin ini sedikit konyol dan kamuplase

namun realita hidup siapa yang bisa menolaknya?

biarkan debu itu lenyap dengan sendirinya

bahkan mungkin debu itu yang akan menjadi mahkota

kebesaranmu detik waktu mendorong usia bumi

satu detik ke depan kita takan pernah tahu

rencana apa yang sedang disusun penciptaNya

yang terang dan jelas

keindahan adalah denting dawai hati kita

yang rindu Cahaya Maha Cahaya

4.

bahasa dan jarak adalah

cinta dan kebencian yang tipis batasannya

mengakui itu memang sulit

biarkan cerita ini menemu

endingnya sendiri

satuhal yang harus terjaga

ukhuwah dalam bingkai silaturahmi

jangan sampai hangus

sebab itu kunci hidup maghfirahNya

jangan sampai terjebak pada sombong

yang menjauhkan ambang wangi surga

untuk dicum apalagi dimasuki

5.

hati mati langkah terpatri

ini yang harus dihindari

gelisah memang melodi hidup

jadikan ketidaknaymanan ini

sebagai gerbang hidayahNya

satu pintu tertutup

seribu pintu terbuka

bagi hati yang berfikir

inilh risalah hati yang diciptakan

oleh penciptaNya hanya kepala dingin

pikiran yang tak terombang ambing

yang bisa mentafakurinya

menjadi sebuah hidangan syukur nikmat

dari dan atas kehendaknya

6.

senja dilahap malam

pribadi menilai pribadi

saling membaca dalam pikir dan rasa

impian demi impian lebih subur mekar

ketimbang musim itu sendiri

yang menawarkan ribuan mimpi

demikianlah adanya kita tak bisa

membaca dengan pasti atas enigma pencipta

7.

sejatinya yang diciptakan

hidupnya hanya tujuh hari

kejelasan adalah risalah hidup yang diciptakan

sebelum bunga rampai menghias tanah merah

harapan itu ada

pencipta yang senang membolak balikan hati

tak pernah terbaca gerak dan arahnya

dikehidupan yang akan datang

bilamana kita dipersatukan?

rahmat atau kutukkah?

tak ada yang bisa menjawab dengan pasti

selain izrail yang merayapi usia rambut kita

dengan ribuan catatan peristiwa

yang tengah dan telah disaksikannya

atas kehendak pencipta



Lebih Lanjut..

Senin, 08 September 2008

FESTIVAL RAMADHAN 2008


                                              PENGANTAR

 
 Allahu Akbar! Allah Maha Besar dengan segala ciptaanNya, dengan segala keagunganNya. Segala puji bagiMu ya Allah yang telah menciptakan Ramadhan sebagai bulan suci, bulan penuh pahala serta ampunan, menjadi sarana untuk menjemput indahMu, di dunia dan alam baqa.
 Dalam kesempatan di bulan yang mulia ini, kawan-kawan kami, sejawat kami, serta putra-putri kami yang peduli akan syi’arMu, berhimpun diri untuk memuji kesabaranMu melalui kreasi seni sebagai bentuk dan manifestasi dari keindahanMu yang azali.
 Melalui amalan di bulan ramadhan ini kami ingin mendekatkan diri kepadaMu dari berbagai sisi kehidupan, di samping ibadah-ibadah mahdoh juga yang goer mahdoh berupa kreativitas seni merujuk pada cerita-ceita mulia sebagai “Ahsanul Qashash” dalam kitab suciMu yang siddiq dan otentik.
 Kami ingin hidup ini penuh dimensi, bervariasi, penuh kreasi, karena kami di anugrahi kemampuan untuk itu, untuk menciptakan sesuatu karya kreatif sebatas kemampuan kemanusiaan yang kami miliki. Kami terinspirasi dengan konsepMu yang Agung dengan syariat puasa ramadhan yang nampaknya menyiksa diri tetapi sesungguhnya bermakna menghargai diri.
 Siapa bilang dalam lapar tidak ada keindahan? Kecuali bagi orang yang tak pernah mau lapar. Siapa bilang lapar tak bisa dikenang sebagai suatu kesenangan. Ketika lapar itulah indahnya suara adzan terasakan bagaikan vonis kemenangan perjuangan. Bunyi bedug pun terasa sangat menyenangkan. Seteguk air bagaikan pembayar lunas semua dahaga di seharian. Belum lagi kebahagian yang dijanjikan Allah kelak di kemudian hari yang akan diberikannya secara langsung.
 Kami ingin membuat sesuatu yang nampaknya sedih dan memilukan tetapi sarat kemulian dan keindahan. Betapa indahnya keteguhan iman, kekokohan keyakinan. Itulah “Masyitoh” ikon wanita muslimah, yang akan menjadi garapan utama dalam kreasi seni ramadhan yang diselenggarakan UKM PEMANIS STSI Bandung. Masih banyak seni-seni religius lainnya yang akan kami tampilkan, baik puisi maupun musik, dan tak ketinggalan group yang senantiasa hadir di dalam event-event seni Islami, yaitu At Thawaf yang handal dalam nada dan da’wah dibalut pesona vocal dan instrumental yang spiritual.
 Itulah curahan kegembiraan kami di bulan ramadhan, semoga para penggagas, para pendukung, para pemain dan simpatisan mendapat pahala dan kebaikan di bulan suci ramadhan, karena semua ini kami persembahkan untuk kebesaran ramadhan yang merupakan pembuktian diri manusia sebagai manusia yang seutuhnya. Akhirnya segala sesuatunya kami kembalikan kepada yang Maha Suci, karena kami hanyalah manusia biasa yang terkena salah dan lupa. Semoga Allah mengampuni kekhilafan kami.

 Bandung, 17 September 2008

  Ketua STSI Bandung


                                           FESTIVAL RAMADHAN 2008
                                                    “sastra & ramadhan”

Kenapa Dinamakan Sastra & Ramadhan?

Konsep Garap: merujuk pada perkataan Saini KM, teater adalah sastra yang teatrikal, di sini yang harus digarisbawahi oleh kita adalah kata teater, sastra dan teatrikal. Sepertihalnya penalaran deduktif kata teater yang mempunyai arti: segala sesuatu yang dipertontonkan dan di pertunjukkan dinamakan teater. Jadi apapun jenis & bentuk kesenian (baik format gelaran maupun format pameran) bisa dikatakan teater, seperti halnya pameran seni rupa bisa dikatakan teater, mengapa? Di sana ada sang curator yang menjabarkan arti karya si pelukis/instalansi/display/pematung dengan bahasa verbalnya yang nyastra, dan tentu saja gaya penyampaian bicara sang curator pada si apresiator (yang sedang menyaksikan pameran tersebut) dengan menggunakan pola teatrikal, dimana tujuannya, --si apresiator tertarik pada karya lukis si pelukis (seniman) yang pameran dan menarik minat untuk dibeli. Begitupun pada pementasan tari, seni dakwah dan lain-lainnya. 
Dalam rangka menyambut bulan ramadhan, dimana di dalam bulan tersebut terkandung malam 1000 Bulan. Atau yang kita sebut malam lailatul qodar. Dalam setiap tahunnya, telah menjadi tradisi PEMANIS, untuk mengadakan pagelaran dalam format/tema besar; memperingati malam nujulul qur’an.
Tema di atas diusung dari kerjasama PEMANIS dan UPT AJANG GELAR, yang mempunyai tema: Gelar Puisi Ramadhan. Maka untuk mempersatukan tema yang diberikan UPT Ajang Gelar, di mana pemanis punya tema Korma Manis (Kontemplasi Ramadhan ala Pemanis) dalam tema tersebut, pemanis punya beberapa program; Teater, tari, seni rupa dan musik. Maka untuk menjadi satu kesatuan yang utuh, (UPT Ajang Gelar & PEMANIS) tema besar yang diangkat menjadi Festival Ramadhan, dimana di dalamnya terkandung Sastra & Ramadhan.


Manager Floor Director

Lintang Ismaya 




Lebih Lanjut..

Sabtu, 30 Agustus 2008

UNTUK KAU BACA "side 3"

Lintang Ismaya

Sobat

Rindang lengkung mayung widara murung
Angin bertiup setengah hati
Tetes hujan mulai reda
Namun asa silih menyilih
Alamat-alamat terlalu banyak

Alun nada irama diri
Yang terang dan jelas
Ulu kehilangan arah

Buritan rindu tak menemu dermaga
Untuk melabuhkan kasihnya
Dimana pikir dan rasa
Hidayah dari Sang Hyang Tunggal
Ingin aku layarkan kata-kata ke seberang laut pikiranmu
Alangkah indahnya, --bilamana itu terjadi; sebab
Risalah manusia adalah kejelasan
Tetapi apa dikata;
Ikrar kita, --mengapa harus terpatok nada

2008
Lebih Lanjut..

Senin, 30 Juni 2008

UNTUK KAU BACA "side 2"








entar
tiba pada suatu titik
dimana kita akan ngerti
siapa yang pernah berarti
siapa yang sedang berarti
dan siapa yang akan selalu berarti
jadi jangan selalu sering
menengok masa lalu
karena setiap orang punya alasan masing-masing
untuk tidak hadir di masa depan!



met pagi rab, ...
gw tidur dulu ya, ...
wish you all
happy good morning, ...

o, yap, ...
hampir aja lupa, ... eum, ...
salahkah jika aku mencintai
sahabat karibku sendiri?
Lebih Lanjut..