Sabtu, 20 September 2008

UNTUK KAU BACA "side 5"

Lintang Ismaya

KEPADA PENYAIR PUNK
--Ratna Ayu Budhiarti--

Pipi kiri bertato melati
Rambut mohek sewarna darah
Hidung tertancap paku
Tipis bibir bawah menggelayut gelang

Kulit lengan penuh tato
Tubuh ceking kurus
Berabad-abad mencari cinta
Menangis di persimpangan

Gulungan kenagan
Jalan-jalan salah alamat;
“kepada cinta, aku telah
tenggelam dalam tiada”
Teriaknya.

Langkah-langkah dipatahkan
Waktu
Detik jam mendorong bumi;
”aku akan tetap mencintai-Mu
karena hanya Engkau yang sanggup membuatku
tiada dan tenggelam di lautan kebesaran-Mu”
Isaknya.

Kembali pada titik nol
Fantastik!

2008




Lebih Lanjut..

Senin, 15 September 2008

UNTUK KAU BACA "side 4"

M A H A B A H

"biarkan bathin ini menangis dan berhenti dengan sendirinya"

1.

ada yang mencintaimu sendirian saja

ketika kau sedang kuncup

ada yang mencintaimu beramai-ramai

ketika kau mulai mekar dan merajuk

siapa yang akan mencintaimu

ketika kau layu

dan mulai membusuk?

2.

siapa yang mendatangkan cinta diantara kalian?

pada prinsipnya yang diciptakan harus menjaga penciptaNya

begitulah proses alam yang sebenarnya dalam konsep mahabah

kita sedikit berfilsafat dalam kontek keyakinan padaNya!

3.

aku paham dengan seluruh isyarat yang salah alamat

kata-kata tak menemu makna dalam pencarianku

tapi siapa yang bisa menghanguskan keyakinan

ketika dian itu dinyalakan tak terduga adanya

demikianlah yang diciptakan mendapat titipan

dari yang menciptakanNya

biarkan aku menjadi setitik debu yang mungkin

mengotori baju kebesaranmu

biarkan debu itu menemu titik klimak kejatuhannya

dimana yang menciptakan kita punya kehendak

hanya takdirNyalah yang bisa meruntuhkan keyakinan

mungkin ini sedikit konyol dan kamuplase

namun realita hidup siapa yang bisa menolaknya?

biarkan debu itu lenyap dengan sendirinya

bahkan mungkin debu itu yang akan menjadi mahkota

kebesaranmu detik waktu mendorong usia bumi

satu detik ke depan kita takan pernah tahu

rencana apa yang sedang disusun penciptaNya

yang terang dan jelas

keindahan adalah denting dawai hati kita

yang rindu Cahaya Maha Cahaya

4.

bahasa dan jarak adalah

cinta dan kebencian yang tipis batasannya

mengakui itu memang sulit

biarkan cerita ini menemu

endingnya sendiri

satuhal yang harus terjaga

ukhuwah dalam bingkai silaturahmi

jangan sampai hangus

sebab itu kunci hidup maghfirahNya

jangan sampai terjebak pada sombong

yang menjauhkan ambang wangi surga

untuk dicum apalagi dimasuki

5.

hati mati langkah terpatri

ini yang harus dihindari

gelisah memang melodi hidup

jadikan ketidaknaymanan ini

sebagai gerbang hidayahNya

satu pintu tertutup

seribu pintu terbuka

bagi hati yang berfikir

inilh risalah hati yang diciptakan

oleh penciptaNya hanya kepala dingin

pikiran yang tak terombang ambing

yang bisa mentafakurinya

menjadi sebuah hidangan syukur nikmat

dari dan atas kehendaknya

6.

senja dilahap malam

pribadi menilai pribadi

saling membaca dalam pikir dan rasa

impian demi impian lebih subur mekar

ketimbang musim itu sendiri

yang menawarkan ribuan mimpi

demikianlah adanya kita tak bisa

membaca dengan pasti atas enigma pencipta

7.

sejatinya yang diciptakan

hidupnya hanya tujuh hari

kejelasan adalah risalah hidup yang diciptakan

sebelum bunga rampai menghias tanah merah

harapan itu ada

pencipta yang senang membolak balikan hati

tak pernah terbaca gerak dan arahnya

dikehidupan yang akan datang

bilamana kita dipersatukan?

rahmat atau kutukkah?

tak ada yang bisa menjawab dengan pasti

selain izrail yang merayapi usia rambut kita

dengan ribuan catatan peristiwa

yang tengah dan telah disaksikannya

atas kehendak pencipta



Lebih Lanjut..

Senin, 08 September 2008

FESTIVAL RAMADHAN 2008


                                              PENGANTAR

 
 Allahu Akbar! Allah Maha Besar dengan segala ciptaanNya, dengan segala keagunganNya. Segala puji bagiMu ya Allah yang telah menciptakan Ramadhan sebagai bulan suci, bulan penuh pahala serta ampunan, menjadi sarana untuk menjemput indahMu, di dunia dan alam baqa.
 Dalam kesempatan di bulan yang mulia ini, kawan-kawan kami, sejawat kami, serta putra-putri kami yang peduli akan syi’arMu, berhimpun diri untuk memuji kesabaranMu melalui kreasi seni sebagai bentuk dan manifestasi dari keindahanMu yang azali.
 Melalui amalan di bulan ramadhan ini kami ingin mendekatkan diri kepadaMu dari berbagai sisi kehidupan, di samping ibadah-ibadah mahdoh juga yang goer mahdoh berupa kreativitas seni merujuk pada cerita-ceita mulia sebagai “Ahsanul Qashash” dalam kitab suciMu yang siddiq dan otentik.
 Kami ingin hidup ini penuh dimensi, bervariasi, penuh kreasi, karena kami di anugrahi kemampuan untuk itu, untuk menciptakan sesuatu karya kreatif sebatas kemampuan kemanusiaan yang kami miliki. Kami terinspirasi dengan konsepMu yang Agung dengan syariat puasa ramadhan yang nampaknya menyiksa diri tetapi sesungguhnya bermakna menghargai diri.
 Siapa bilang dalam lapar tidak ada keindahan? Kecuali bagi orang yang tak pernah mau lapar. Siapa bilang lapar tak bisa dikenang sebagai suatu kesenangan. Ketika lapar itulah indahnya suara adzan terasakan bagaikan vonis kemenangan perjuangan. Bunyi bedug pun terasa sangat menyenangkan. Seteguk air bagaikan pembayar lunas semua dahaga di seharian. Belum lagi kebahagian yang dijanjikan Allah kelak di kemudian hari yang akan diberikannya secara langsung.
 Kami ingin membuat sesuatu yang nampaknya sedih dan memilukan tetapi sarat kemulian dan keindahan. Betapa indahnya keteguhan iman, kekokohan keyakinan. Itulah “Masyitoh” ikon wanita muslimah, yang akan menjadi garapan utama dalam kreasi seni ramadhan yang diselenggarakan UKM PEMANIS STSI Bandung. Masih banyak seni-seni religius lainnya yang akan kami tampilkan, baik puisi maupun musik, dan tak ketinggalan group yang senantiasa hadir di dalam event-event seni Islami, yaitu At Thawaf yang handal dalam nada dan da’wah dibalut pesona vocal dan instrumental yang spiritual.
 Itulah curahan kegembiraan kami di bulan ramadhan, semoga para penggagas, para pendukung, para pemain dan simpatisan mendapat pahala dan kebaikan di bulan suci ramadhan, karena semua ini kami persembahkan untuk kebesaran ramadhan yang merupakan pembuktian diri manusia sebagai manusia yang seutuhnya. Akhirnya segala sesuatunya kami kembalikan kepada yang Maha Suci, karena kami hanyalah manusia biasa yang terkena salah dan lupa. Semoga Allah mengampuni kekhilafan kami.

 Bandung, 17 September 2008

  Ketua STSI Bandung


                                           FESTIVAL RAMADHAN 2008
                                                    “sastra & ramadhan”

Kenapa Dinamakan Sastra & Ramadhan?

Konsep Garap: merujuk pada perkataan Saini KM, teater adalah sastra yang teatrikal, di sini yang harus digarisbawahi oleh kita adalah kata teater, sastra dan teatrikal. Sepertihalnya penalaran deduktif kata teater yang mempunyai arti: segala sesuatu yang dipertontonkan dan di pertunjukkan dinamakan teater. Jadi apapun jenis & bentuk kesenian (baik format gelaran maupun format pameran) bisa dikatakan teater, seperti halnya pameran seni rupa bisa dikatakan teater, mengapa? Di sana ada sang curator yang menjabarkan arti karya si pelukis/instalansi/display/pematung dengan bahasa verbalnya yang nyastra, dan tentu saja gaya penyampaian bicara sang curator pada si apresiator (yang sedang menyaksikan pameran tersebut) dengan menggunakan pola teatrikal, dimana tujuannya, --si apresiator tertarik pada karya lukis si pelukis (seniman) yang pameran dan menarik minat untuk dibeli. Begitupun pada pementasan tari, seni dakwah dan lain-lainnya. 
Dalam rangka menyambut bulan ramadhan, dimana di dalam bulan tersebut terkandung malam 1000 Bulan. Atau yang kita sebut malam lailatul qodar. Dalam setiap tahunnya, telah menjadi tradisi PEMANIS, untuk mengadakan pagelaran dalam format/tema besar; memperingati malam nujulul qur’an.
Tema di atas diusung dari kerjasama PEMANIS dan UPT AJANG GELAR, yang mempunyai tema: Gelar Puisi Ramadhan. Maka untuk mempersatukan tema yang diberikan UPT Ajang Gelar, di mana pemanis punya tema Korma Manis (Kontemplasi Ramadhan ala Pemanis) dalam tema tersebut, pemanis punya beberapa program; Teater, tari, seni rupa dan musik. Maka untuk menjadi satu kesatuan yang utuh, (UPT Ajang Gelar & PEMANIS) tema besar yang diangkat menjadi Festival Ramadhan, dimana di dalamnya terkandung Sastra & Ramadhan.


Manager Floor Director

Lintang Ismaya 




Lebih Lanjut..

Sabtu, 30 Agustus 2008

UNTUK KAU BACA "side 3"

Lintang Ismaya

Sobat

Rindang lengkung mayung widara murung
Angin bertiup setengah hati
Tetes hujan mulai reda
Namun asa silih menyilih
Alamat-alamat terlalu banyak

Alun nada irama diri
Yang terang dan jelas
Ulu kehilangan arah

Buritan rindu tak menemu dermaga
Untuk melabuhkan kasihnya
Dimana pikir dan rasa
Hidayah dari Sang Hyang Tunggal
Ingin aku layarkan kata-kata ke seberang laut pikiranmu
Alangkah indahnya, --bilamana itu terjadi; sebab
Risalah manusia adalah kejelasan
Tetapi apa dikata;
Ikrar kita, --mengapa harus terpatok nada

2008
Lebih Lanjut..

Senin, 30 Juni 2008

UNTUK KAU BACA "side 2"








entar
tiba pada suatu titik
dimana kita akan ngerti
siapa yang pernah berarti
siapa yang sedang berarti
dan siapa yang akan selalu berarti
jadi jangan selalu sering
menengok masa lalu
karena setiap orang punya alasan masing-masing
untuk tidak hadir di masa depan!



met pagi rab, ...
gw tidur dulu ya, ...
wish you all
happy good morning, ...

o, yap, ...
hampir aja lupa, ... eum, ...
salahkah jika aku mencintai
sahabat karibku sendiri?
Lebih Lanjut..

KOMPAS "30 juli 2008" HUMANIORA


ANGKLUNG BADUD
DI TANGAN PENYAIR

Oleh: Tomy Himura


“Apa yang akan terjadi di atas pentas, bila seorang penyair menyutradarai seni tradisional (buhun) “Angklung Badud” manakala jenis kesenian helaran ini diperkirakan sudah mencapai ± 130 tahun?”
Tidaklah heran bila seni akting di atas panggung (Teater) disutradarai oleh seorang penyair. Di Indonesia, sudah tentu; itu hal yang lazim, --katakanlah seperti W.S. Rendra, Putu Wijaya, Rachman Sabur dan Suyatna Anirun. Inilah yang menarik perhatian penulis untuk membahas Seni Buhun Angklung Badud, dari Kelurahan Sukamaju Kaler, Kecamatan Indihiang, Kota Tasikmalaya. Rakean Wanen Ismaya (salah satu nama pena dari 9 nama pena yang dimiliki oleh Doni Muhamad Nur), memperlihatkan bentuk baru hasil revitalisasi dari kesenian ini di Teater Terbuka Taman Budaya Dago Tea House, Bandung Sabtu (28/06/08) malam.


Konsep Garap

Pementasan Angklung Badud kali ini, Ismaya menggiringnya pada konsep garap oratorium. Pagelaran dibuka dengan tampilnya Sang Badud (berbarengan dengan musik pembuka/overture) yang digambarkan sebagai pria konyol, namun punya ilmu kesaktian yang tinggi. Kemudian sang badud mendekati jampana. 3 menit berlalu, kemudian muncul arak-arakan dari 2 arah yang membelah panggung, meliuk-liuk seperti ular haus mangsa; pasukan tersebut, adalah tim dogdog dan tim angklung yang mengiringi tim jampana. Kemudian tim jampana mendekati jampana yang sudah ada di tengah tengah panggung. Sang badud memanggil anak yang akan disunat dan menuntunnya ke kursi bambu (jampana). Setelah anak duduk. Kemudian tim angklung mengerumuni jampana itu, membentuk lingkaran dalam wujud kerucut. Dikatakan Ismaya, “kerucut dibuatnya adalah sebagai perlambang antara dunia atas tengah dan bawah”.
Sebelum anak itu di arak untuk turun mandi, sang badud merajah anak tersebut, sebagai perlambang doa untuk keselamatan. Perlahan-lahan kerucut yang membungkus jampana membuka dan penari masuk dari arah penonton, menaburkan bunga melati kepada para penonton yang hadir, calon pengantin sunat dan seluruh tim angklung badud. Sementara sang badud menyalakan parupuyan, sebagai symbol sempurnanya rajah. Di sini, Ismaya pun punya alasan tersendiri, mengapa bunga melati yang dipilihnya? “Melati, khususnya di dunia timur, sebagai perlambang kelahiran, perkawinan, dan kematian. Bukankah sunatan pun, sebagai perkawinan alam kaum ikhwan yang beragama islam, dimana sunatan, adalah sunah Rassull yang wajib dilaksanakan. Disamping untuk kesehatan. Pun alasannya sangat logis, sunatan, sebagai symbol lelaki menuju akil balig”.
Upacara ritual pun selesai dilaksanakan. Tak lama dari sana, muncul tim kuda lumping. Setelah beberapa saat beraksi. Sang badud memerintahkan kepada seluruh timnya untuk mengarak calon pengantin sunat menuju balong. Lagi-lagi di sini, Ismaya punya symbol tersendiri akan pemilihan kuda lumping; “kuda lumping dipilih, sebagai symbol kejantanan. Bukan berarti kuda lumping itu symbol black magic”.
Sesampainya di balong, sang anak dimandikan. Kegunaan mandi ini, sebagai penyucian diri dan juga berfungsi sebagai obat bius. Manakala zaman dulu, belum mengenal obat bius. Supaya anak tidak setres, dalam pemandian yang dilakukan oleh sang badud. Sang badud menyuruh timnya untuk menghibur anak tersebut dengan tari-tarian kocak. Tim penari yang memakai topeng karikatur, kuda lumping yang menari-nari diselingi tingkah sang badud yang bermain silat kocak. Dalam turun mandi ini, sang anak dimandikan dengan air beras. “Dimana menurut kepercayaan orang di zaman dulu, mandi dengan air beras, sebagai perlambang terbentuknya kita dari saripati alam. Dan juga air beras berfungsi untuk melenturkan kulit penis yang akan dipotong (sunat)”.
Turun mandi pun selesai. Kemudian calon pengantin sunat itu, diarak kembali menuju rumah paraji sunat. Sambil menunggu anak yang sedang disunat, sang badud kemudian menyuruh timnya untuk memainkan musik shalawat. Sementara tim penari, menari-nari bak seorang sufi yang rindu Cahaya Maha CahayaNya. Di sini pun, Ismaya, tak luput dari symbol: “dalam sebuah hadist dan riwayat, barang siapa yang mengumandangkan shalawat, maka ruhku (Muhammad SAW) akan hadir dan bertasbih untuk majelis tersebut dan sekitarnya. Shalawatpun saya terapkan, dimana titah sunatan adalah anjurannya yang wajib dilaksanakan oleh kaum muslim”.
Upacara sunatan pun selesai, sang anak kembali hadir ke atas pentas dengan tim jampana. Tim angkung kembali memburu jampana yang ditunggangi sang anak, membentuk symbol kerucut (segi tiga). Kemudian mereka semuanya menyebar, sorak-sorai, sebagai wujud kegembiraan, irama musik yang seenak udel, tarian yang tak teratur, kuda lumping yang motah. Hal ini disuguhkan Ismaya, “sebagai wujud ekspesi naluriah kemanusiaan yang melampiaskan kegembiraan, manakala sang anak telah berhasil melaksanakan sunah Rassull, sebagai bentuk jihad pula dalam menegakkan syariat islam. Adapun kerucut yang terakhir ini, sebagai symbol sudah terkelupasnya kulit yang menutupi kepala jakar”.
Kegembiraan yang tak terkendali, disadarkan kembali oleh sang badud, kemudian seluruh tim angklung badud, memainkan musik bribil, dengker & bangsower. Sang anak yang masih duduk di atas jampana, setelah turun dari pundak pembopongnya, sang anak disuguhi tarian semacam adu manis yang disusul dengan demo kuda lumping. “Hal ini saya maksudkan, manakala tarian semacam adu manis ini, sebagai symbol kedewasaan. Dimana sang anak harus melanjutkan keturunan. Dalam agama islam. Perkawinan adalah bagian dari separuh perjalanan, --menjalankan syariat islam. Sedangkan demo kuda lumping, saya maksudkan, --dimana hidup adalah lembah dan jurang yang harus kita maknai. Manakala hidup adalah rangkaian pelajaran yang harus dihayati untuk dimengerti”.
Suguhan tari-tarian pun usai dilaksanakan. Kemudian Sang Anak diarak kembali. Untuk menuju kediaman rumahnya. Oratorium pun selesai. Sebuah pertunjukkan yang syarat symbol itu, hasil dari revitalisasi, dikemas secara apik oleh Ismaya. Dengan alur kisah untuk memberikan pemahaman kepada para apresiator, dimunculkannya suara narator.
Percaya atau tidak, menurut Ismaya, pementasan yang cukup spektakuler ini, dipersiapkan hanya dalam waktu 10 hari saja. Dimana Ismaya mendapat tugas dari DISBUDPAR Provinsi JABAR yang bekerjasama dengan PUSLITMAS STSI Bandung, untuk mengadakan pelestarian budaya, pada jenis-jenis kesenian buhun yang hampir punah. Ismaya datang ke Kota Tasikmalaya tentu tidak sendirian, ia dibantu oleh Dadang Hriyanto (Sarjana Tari) dan Usman Suhana (Sarjana Karawitan). Sedangkan Ismaya sendiri, yang lebih terkenal sebagai penyair, ketimbang teaterawan, ia lulusan STSI dari jurusan Teater, program studi Penulisan. Inilah yang membikin decak kagum apresiator malam itu. Lain halnya, bila Ismaya lulusan program studi Penyutradaraan di Jurusan Teater. Ismaya yang membikin skenarionya sendiri, sekaligus menyutradarainya. (Red. --baca kompas 30 juni 2008)

Sejarah

Dalam bentuk aslinya, pada jenis kesenian helaran ini, hanya ada tim dogdog dan tim angkung yang dipimpin seorang badud. Manakala 1 buah trompet, dogdog ada 4 buah dan angklung ada 13 buah. Dimana 2 angkung disebut tilingtit dan 11 angklung disebut rowel. Adapun, iringan yang membawa beras dalam boboko, adalah keluarga si pengantin sunat. Sedangkan anak calon pengantin sunat di gandong oleh sang badud.
Badud di sini, tidak sembarangan badud, namun orang yang mempunyai kesaktian. Karena saat itu situasi masih dalam suasana belum merdeka, seni angklung badud ini dipimpin oleh sosok seorang pemberani yang kesehariannya selalu memakai busana khas, sehingga dijadikan sebagai kokolot/lengser yang bertugas memimpin arak-arakan tersebut, yang kemudian orang tersebut diberi istilah dengan sebutan badud. Kemudian pada perkembangannya jadi popular dengan sebutan Angklung Badud.
Dikatakan Ismaya, berdasarkan cerita dari Mak Icih (77 th), sebagai pewaris asli yang masih hidup: “angklung badud ini diciptakan oleh bapaknya Mak Icih (Aki Satimi), kemudian diturunkan pada mantunya, Abah Wadma (suami Mak Icih yang meninggal dunia pada usia 83 tahun di tahun 2004). Sebelum sampai pada kepemimpinan sekarang, Kang Unang Bolu, ada 3 pimpinan yang lupa lagi namanya. Menurut Mak Icih, Aki Satimi memperoleh ilmu silat dan musik angklung ini dari Nyi Ronggeng. Dan tidak menutup kemungkinan asal-usul kesenian yang dipimpin bapaknya di zaman dahulu adalah warisan dari Nyi Ronggeng, sebagai guru spiritualnya Aki Satimi. Sedangkan guru Nyi Ronggeng, Mak Icih tidak mengetahuinya secara pasti”.
Jenis kesenian helaran ini, disamping sebagai arakan pengantin sunat, pun di zaman dulu berpungsi sebagai penghibur lomba Layangan, Panahan dan arakan serta hiburan Kawinan.
Berdasarkan cerita Mak Icih yang kembali diceritakan Ismaya kepada penulis: “setiap malam selasa dan malam jum’at. Angkung & dogdog suka dikasih sesajen. Dan suka hidup sendiri (bermain musik) tanpa dimainkan oleh orang.
“Angklung ini ada 2 paket. Angklung di zaman kepemimpinan Aki Satimi, berbeda dengan angklung di zaman dalang Abah Wadma. Angkung yang mentas malam itu, adalah angklung di zaman Abah wadma. Dan dogdognya dari zaman Aki Satimi. Hanya trompetnya yang tidak asli. Dimana trompet tersebut, belum bisa diwariskan, oleh pemegang trompetnya di zaman Abah Wadma. Inilah yang membuat regenerasi seniman angklung badud tidak mudah, --karena harus dilakaukan pada keturunan seniman yang asli.
“Seperti yang dikatakan Mak Icih pada saya, hilangnya 1 paket angklung di zaman Aki Satimi, ketika itu, pada saat pagelaran 17 agustus. Dipinjam oleh warga desa, tempat kelahiran Aki Satimi. Namun angkung tersebut tidak pernah lagi kembali. Zaman genting di tahun 63, krisis ekonomi, --ketika aki Satimi mau meminta angklungnya kembali pada warga, angklung tersebut sudah jadi suluh dan orang-orang yang membakar angklung tersebut (sebagian orang yang masih hidup di zaman Aki Satimi yang membakar angklung tersebut menjadi suluh, untuk menyalakan hawu), kini menjadi tuli dan ada juga yang jadi buta. Seperti kena kutukkan. Wallahu a’lam.
“Menginjak kepemimpinan Abah Wadma, mantunya Aki Satimi; maka regenerasi angklung badud, harus pada keturunan yang asli. Jika tidak, maka angklung tidak mau berbunyi secara nyaring dan menggema, ketika ditabuh.” Wallahu a’lam.
Terlepas dari itu semua, revitalisasi yang dilakukan Ismaya dan soulmetnya (Dadang & Usman, cukuplah menohok. Manakala Tasikmalaya terkenal sebagai julukan kota Santri. Ismaya pun mengemas pertunjukkan kali ini dengan konsep dan symbol yang syarat islami pula.
Malam itu, dalam format Etalase Bambu 3, Program Taman Budaya Jawa Barat, Bandung, Selain angklung badud, ditampilkan pula jenis kesenian serupa. Hasil revitalisasi; Angklung gubrag dari Kabupaten Bogor dan angklung sered dari Kabupaten Tasikmalaya.
Angklung telah memberikan warna di berbagai kesenian tradisional di Jawa Barat. Sepertihalnya seni Angkung Badeng dari Garut, Seni Angklung Ujo dari Bandung. Seni Angklung Badud yang sempat menghilang ini, yang sudah direvitalisasi oleh Ismaya, adakah akan menghilang kembali? Apa tindak lanjut berikutnya DISBUDPAR JABAR umumnya, serta DISBUDPAR Kota Tasikmalaya hususnya, untuk melestarikan kesenian angklung badud ini yang konon usianya sudah mencapai ± 130 tahun?***1 juli 2008***

_______
sepenggal tulisan ini pernah dipublikasikan di majalah GONG
tulisan ini di ambil dari blog tomy.maulana.co.cc


Kalau yang di bawah ini. tulisan orang lain, --ditulis oleh Wartawan KOMPAS JABAR.



Lebih Lanjut..

Minggu, 25 Mei 2008

J A T U H

Cerpen: Lintang Ismaya

Patahan-patahan kata merangkai kalimat. Manakala kalimat demi kalimat merangkai makna untuk ditafsir. Sebelum huruf membunuh huruf.
Jatuh. Sebuah kata yang syarat makna. Bisa berarti jatuh dalam segala hal, tergantung kata demi kata yang menjadi aksesorisnya:
“Apa yang dikau lakukan ketika jatuh?”
“Terkadang marah, kesal bahkan mengumpat Tuhan segala?”
“Itulah hidup. Semestinya, kita senyum; bila mengalami hal tersebut. Jika dikau jatuh, --sesungguhnya ada sebuah jalan yang menjadi enigmaNya?”
Percakapan itulah, yang masih tersimpan rapi di dalam diaryku, beberapa tahun silam; ketika kami sudah mulai akrab. Ia seorang perempuan. Namanya Rab. Aku menyebut dirinya sebagai malaikat kecilku. Gadis cantik berparas keturunan Indo-Jerman. Lahir dan besar di tanah Sunda. Hobinya menulis puisi. Orang-orang menyebutnya sebagai penyair sensual nan sexy, senyumnya yang etnis, bikin gereget kaum lelaki bila beradu pandang dengannya.
Potongan hujan jatuh satu-satu
Menjadi bunyi. Merekahkan gairah
Yang nyaris layu dalam kalbu

“Hai, masih suka tidur di kampus? Besok aku akan datang jam 9 tepat. Dikau sudah bangunkan?” Sebuah SMS singkat aku terima.
“Tikus kampus maksudnya? Yap, aku tidur di UKM. Jam 9 aku sudah bangun kok? Aku tunggu ya?” Jawabku.
Rab? Aku baru sadar, bahwa SMS itu datangnya dari Rab. Aku pikir dia sudah melupakanku. Aku pernah membikin ia kecewa, --gara-gara SMS-SMS gelapku yang aku kirimkan padanya. Tujuanku bercanda. Tapi akhirnya dia tahu, siapa yang candainya selama ini. Susah memang, dia benar-benar pintar, di samping cantik, keibuan lagi. Rab, tahu persis gaya bahasaku. Itulah kemarahannya padaku. Sejak itu, kami jarang bertemu dan berkomunikasi, meski via SMS sekalipun. Rupanya Rab benar-benar membenciku.
Malam melayang jatuh
Bagai lembaran daun gugur
Angin tiris menggarisi sisa usia
“Tahun 2008”. Bibirku bergumam, seraya pandangan mataku jatuh pada almanak yang menggantung di dinding kamar (UKM), persis di atas meja yang menampung monitor komputer dan buku-buku. Teringat kembali akan Rab, ketika kami sering bertemu. Tak cukup banyak kenangan sih, sejujurnya. Tapi kenangan memang tak bisa dikuburkan:
“Bukan makanan yang masuk ke tubuh kita yang membikin kita sakit. Tapi ada pikiran-pikiran lain yang mengganggu organ tubuh. Lihatlah kini dikau punya tubuh? Kurus, garing. Ketika jatuh, janganlah terlalu didramatisir, yang membuat kita sakit dan menjerit tak berdaya; oleh siapa lagi diri kita diobati, kalau bukan oleh diri kita sendiri? Setidaknya sayangilah badan dikau, tidak kering seperti ini? Katanya dikau pernah jatuh. Kenapa dengan jatuh ini, dikau tidak bisa belajar dari kejatuhan-kejatuhan lampau, untuk mengatasinya?”
“Ini masalahnya lain Rab; aku sudah memplanning semuanya dengan sempurna?”
“Impian tak seindah yang dibayangkan. Dikau ingat itu?” Kilat jawabannya. Tanpa sempat untukku berpikir lagi. Selain mengumpat Sang Waktu:
“Tuhan tidak adil?”
“Eit… kenapa bilang begitu? Bukankah Tuhan Maha Pencemburu? Siapa tahu, saking fokusnya dikau pada sesuatu, akhirnya perintah Tuhan terlupakanlah, --oleh dikau?”
“Itu bagimu, yang tidak merasakan?” Pangkasku. Tak mau kalah. Sementara Rab hanya tersenyum tipis saja disepuh geleng-geleng kepala:
Kembali aku disadarkan oleh Rab, pada kejatuhanku yang entah untuk keberapa kalinya. Tahun 2005, benar-benar duka raya bagiku. Perempuan memang misterius. Sepertihalnya Rab, yang menjelma malaikat kecil; bagiku. Di sisi lain aku jatuh oleh seorang perempuan. Ia pergi meninggalkanku, dengan semua planning yang telah disusun dan disepakati secara bersama-sama. Kuharus relakannya pergi, walau aku tak mau.
Luka cinta, memang sulit untuk diobati secara cepat dan praktis. Tak ada obat yang paling mujarab, selain waktu, kasih sayang dan perhatian.
Meski menggoreskan luka di hati, kenangan demi kenanganku dengannya. Tak pernahku lupa. Terkadang aku suka senyum sendiri bila mengingatnya. Bening, nama perempuan tersebut. Banyak pelajaran yang aku dapatkan, selama merajut cinta dengannya, --memahami segala apa yang kami pandang. Memaknai hidup. Manakala hidup adalah rangkaian pelajaran yang harus dihayati untuk dimengerti. Meski kini, aku trauma untuk menyulam cinta dengan perempuan lain di luar Bening. Bening, --yang menorehkan luka mawar begitu dalam. Tersimpan di palung rasa.
Sejak saat itu, di kampus; aku terkenal dengan sebutan lelaki sepi dan dingin. Terlebih pada mahluk bernama perempuan. Walau Rab, sudah mengingatkanku; --akan tidak bolehnya memelihara keputus-asaan di kedalaman dada.
Matahari menyentuh miring
Menembus kisi-kisi jendela
Hangat dibingkai kicau burung
Dering HPku berbunyi. Bangunkanku dari dunia mimpi. Aku mengangkatnya. Terdengar suara merdu, mengusap pendengaranku:
“Aku sudah di depan mesjid. Dikau dimana? Sudah bangunkah?”
“Yap. Sudah bangun kok, makanya aku bisa angkat telephone?” Jawabku dengan full kebohongan. Padahal aku terbangun gara-gara dering HPku yang aku simpan, persis di pinggir telinga kiriku:
“Cepetan ke sini ya, aku tunggu di masjid?” Balasnya.
“Waduh gawat, mana Rab sudah berada di beranda masjid lagi? Ini hari minggu. Semua WC kampus dikunci. Satu-satunya sumber air ada di tempat wudlhu. Masjid. Ketahuan deh, aku baru bangun?” Bisik bathinku.
Langkah-langkah gelisah, aku susuri. Setelah sebelumnya aku kunci pintu UKM. Dari jarak ± 20 meter, aku sudah bisa melihat Rab, yang sedang berdiri di beranda masjid kampus. Semula aku mau memutar jalan, setelah aku melihat Rab, --aku mau memasuki WC masjid. Cuci muka maksudku. Namun badannya Rab keburu berbalik, matanya persis menatapku:
“Woi, baru bangun ya? Maaf aku ganggu? Wah dikau gemuk sekarang? Pipimu cabi, berdagu dua?” Sapanya, sambil mencubiti kedua pipiku, dengan buku-buku jari tangannya.
Tentu saja aku malu. Tak berkomentar. Setelah bersalaman, aku masuki tempat wudlhu, cuci muka kilat, menggunakan dua jari, jurus kuntau dadakan, membuang cileuh yang membikin lingkaran mini di kedua sudut bibir mataku.
Detik jam bergeser pelan
Di rambut umurku
Yang dirayapi Izrail
Di taman kampus. Kami habiskan waktu siang. Kami ngobrol kesana kemari. Rab terlihat layu. Tubuhnya yang molek nan seksi terlihat kering. Namun aura kecantikkannya masih mendomisili permukaan wajahnya. Senyum etnisnya yang khas belum sirna dari bibir tipisnya itu. Aku baru engeh, ada yang berubah dari tubuhnya, --sejak dari tadi ia datang.
Rab bercerita tentang sebab-sebab tubuhnya menjadi kurus:
“Aku, … kenapa aku bukan yang terpilih? Targetku untuk menikah tahun ini, ya di usiaku ini. Aku ingin menikah di usia ini? Dan bukan cuma itu, aku hancur segala-galanya Dom? Impian-impian yang lain pun musnah? Dikau pasti pahamkan? Kini aku jatuh?”
Aku tak buru-buru menjawabnya. Disamping sulit untuk berkata-kata. Rab yang kerap menjadi malaikat kecilku, bila aku sedang terjatuh. Kini, malaikat kecilku sedang terjatuh. Aku pandangi mata Rab, yang sedang berusaha menahan bendungan air garam yang bersarang di kedua klopak matanya, agar tidak bedah di hadapanku. Aku berusaha mengalihkan perhatian: Aku berlari, keluar dari gerbang kampus. Setelah sebelumnya pamit dulu. Aku pesan satu gelas susu tawar, secangkir kopi hitam dan beberapa batang rokok keretek dari kios depan. Pedagang kaki lima yang mangkal, di pinggir luar, persis dekat pintu gerbang kampus:
“Minuman datang… . Aku masih ingat cerita kecilmu dulu. Mudah-mudahan susu tawar ini, masih kesukaanmu di samping coklat?” Sambutku yang baru kembali dari kios.
Rab, menatapku dalam. Aku berusaha menolak sinar yang dipancarkan sepasang matanya ke arahku. Andai kau tahu Rab, sesungguhnya hati ini larut. Luka. Akan kisahmu itu. Bagaimana aku tidak hanyut akan kisahmu Rab. Aku pernah mengalaminya, meski sudah beberapa tahun lamanya. Bilamana kau masih mengingatnya, --bukankah kau yang kembali menyadarkanku pada realitas yang nyata? Sepasang cincin kawin. Satu rumah mungil yang aku beli secara kredit di sebuah bukit, yang aku siapkan untuk hidup bersama Bening. Raib sudah di tangan pengembang, tak sanggup lagi membayar cicilan. Bukan tak sanggup secara materi, tapi harapanlah yang membiarkan rumah itu melayang ditelan duka rayaku:
“Sebahagianya kegembiraan dan kesenangan yang kau dapat. Sifatnya hanya sementara dan sebetapa lamanya kau menyimpan luka, takkan bisa mengembalikan apapun yang sudah hilang darimu?” Sepontan pikiranku, terucap sudah di hadapan Rab.
“Apa dikau bilang?” Timpalnya.
Tak ada perkataan ulang, yang keluar dari rahim mulutku. Selain aku bercerita tentang kisah-kisahku, selama Rab masih menyimpan kemarahanya atas SMS-SMS gelapku. Selama Rab tidak mengunjungiku. Aku yang berbalik curhat. Aku yang mengabaikan kejatuhannya.
Kami yang duduk berhadap-hadapan. Diam-diam aku telisik seluruh tubuhnya dari ujung kaki sampai ujung rambut. Jejak-jejak kaki telanjang, menempel pada tanah, yang menyimpan hasrat mawar untuk tumbuh secara gaib. Cintakah aku padamu Rab? Sembuhkah aku dari kejatuhanku? Entahlah!
***apriltikampustamanbuaya2008**
Lebih Lanjut..