Sabtu, 30 Agustus 2008

UNTUK KAU BACA "side 3"

Lintang Ismaya

Sobat

Rindang lengkung mayung widara murung
Angin bertiup setengah hati
Tetes hujan mulai reda
Namun asa silih menyilih
Alamat-alamat terlalu banyak

Alun nada irama diri
Yang terang dan jelas
Ulu kehilangan arah

Buritan rindu tak menemu dermaga
Untuk melabuhkan kasihnya
Dimana pikir dan rasa
Hidayah dari Sang Hyang Tunggal
Ingin aku layarkan kata-kata ke seberang laut pikiranmu
Alangkah indahnya, --bilamana itu terjadi; sebab
Risalah manusia adalah kejelasan
Tetapi apa dikata;
Ikrar kita, --mengapa harus terpatok nada

2008
Lebih Lanjut..

Senin, 30 Juni 2008

UNTUK KAU BACA "side 2"








entar
tiba pada suatu titik
dimana kita akan ngerti
siapa yang pernah berarti
siapa yang sedang berarti
dan siapa yang akan selalu berarti
jadi jangan selalu sering
menengok masa lalu
karena setiap orang punya alasan masing-masing
untuk tidak hadir di masa depan!



met pagi rab, ...
gw tidur dulu ya, ...
wish you all
happy good morning, ...

o, yap, ...
hampir aja lupa, ... eum, ...
salahkah jika aku mencintai
sahabat karibku sendiri?
Lebih Lanjut..

KOMPAS "30 juli 2008" HUMANIORA


ANGKLUNG BADUD
DI TANGAN PENYAIR

Oleh: Tomy Himura


“Apa yang akan terjadi di atas pentas, bila seorang penyair menyutradarai seni tradisional (buhun) “Angklung Badud” manakala jenis kesenian helaran ini diperkirakan sudah mencapai ± 130 tahun?”
Tidaklah heran bila seni akting di atas panggung (Teater) disutradarai oleh seorang penyair. Di Indonesia, sudah tentu; itu hal yang lazim, --katakanlah seperti W.S. Rendra, Putu Wijaya, Rachman Sabur dan Suyatna Anirun. Inilah yang menarik perhatian penulis untuk membahas Seni Buhun Angklung Badud, dari Kelurahan Sukamaju Kaler, Kecamatan Indihiang, Kota Tasikmalaya. Rakean Wanen Ismaya (salah satu nama pena dari 9 nama pena yang dimiliki oleh Doni Muhamad Nur), memperlihatkan bentuk baru hasil revitalisasi dari kesenian ini di Teater Terbuka Taman Budaya Dago Tea House, Bandung Sabtu (28/06/08) malam.


Konsep Garap

Pementasan Angklung Badud kali ini, Ismaya menggiringnya pada konsep garap oratorium. Pagelaran dibuka dengan tampilnya Sang Badud (berbarengan dengan musik pembuka/overture) yang digambarkan sebagai pria konyol, namun punya ilmu kesaktian yang tinggi. Kemudian sang badud mendekati jampana. 3 menit berlalu, kemudian muncul arak-arakan dari 2 arah yang membelah panggung, meliuk-liuk seperti ular haus mangsa; pasukan tersebut, adalah tim dogdog dan tim angklung yang mengiringi tim jampana. Kemudian tim jampana mendekati jampana yang sudah ada di tengah tengah panggung. Sang badud memanggil anak yang akan disunat dan menuntunnya ke kursi bambu (jampana). Setelah anak duduk. Kemudian tim angklung mengerumuni jampana itu, membentuk lingkaran dalam wujud kerucut. Dikatakan Ismaya, “kerucut dibuatnya adalah sebagai perlambang antara dunia atas tengah dan bawah”.
Sebelum anak itu di arak untuk turun mandi, sang badud merajah anak tersebut, sebagai perlambang doa untuk keselamatan. Perlahan-lahan kerucut yang membungkus jampana membuka dan penari masuk dari arah penonton, menaburkan bunga melati kepada para penonton yang hadir, calon pengantin sunat dan seluruh tim angklung badud. Sementara sang badud menyalakan parupuyan, sebagai symbol sempurnanya rajah. Di sini, Ismaya pun punya alasan tersendiri, mengapa bunga melati yang dipilihnya? “Melati, khususnya di dunia timur, sebagai perlambang kelahiran, perkawinan, dan kematian. Bukankah sunatan pun, sebagai perkawinan alam kaum ikhwan yang beragama islam, dimana sunatan, adalah sunah Rassull yang wajib dilaksanakan. Disamping untuk kesehatan. Pun alasannya sangat logis, sunatan, sebagai symbol lelaki menuju akil balig”.
Upacara ritual pun selesai dilaksanakan. Tak lama dari sana, muncul tim kuda lumping. Setelah beberapa saat beraksi. Sang badud memerintahkan kepada seluruh timnya untuk mengarak calon pengantin sunat menuju balong. Lagi-lagi di sini, Ismaya punya symbol tersendiri akan pemilihan kuda lumping; “kuda lumping dipilih, sebagai symbol kejantanan. Bukan berarti kuda lumping itu symbol black magic”.
Sesampainya di balong, sang anak dimandikan. Kegunaan mandi ini, sebagai penyucian diri dan juga berfungsi sebagai obat bius. Manakala zaman dulu, belum mengenal obat bius. Supaya anak tidak setres, dalam pemandian yang dilakukan oleh sang badud. Sang badud menyuruh timnya untuk menghibur anak tersebut dengan tari-tarian kocak. Tim penari yang memakai topeng karikatur, kuda lumping yang menari-nari diselingi tingkah sang badud yang bermain silat kocak. Dalam turun mandi ini, sang anak dimandikan dengan air beras. “Dimana menurut kepercayaan orang di zaman dulu, mandi dengan air beras, sebagai perlambang terbentuknya kita dari saripati alam. Dan juga air beras berfungsi untuk melenturkan kulit penis yang akan dipotong (sunat)”.
Turun mandi pun selesai. Kemudian calon pengantin sunat itu, diarak kembali menuju rumah paraji sunat. Sambil menunggu anak yang sedang disunat, sang badud kemudian menyuruh timnya untuk memainkan musik shalawat. Sementara tim penari, menari-nari bak seorang sufi yang rindu Cahaya Maha CahayaNya. Di sini pun, Ismaya, tak luput dari symbol: “dalam sebuah hadist dan riwayat, barang siapa yang mengumandangkan shalawat, maka ruhku (Muhammad SAW) akan hadir dan bertasbih untuk majelis tersebut dan sekitarnya. Shalawatpun saya terapkan, dimana titah sunatan adalah anjurannya yang wajib dilaksanakan oleh kaum muslim”.
Upacara sunatan pun selesai, sang anak kembali hadir ke atas pentas dengan tim jampana. Tim angkung kembali memburu jampana yang ditunggangi sang anak, membentuk symbol kerucut (segi tiga). Kemudian mereka semuanya menyebar, sorak-sorai, sebagai wujud kegembiraan, irama musik yang seenak udel, tarian yang tak teratur, kuda lumping yang motah. Hal ini disuguhkan Ismaya, “sebagai wujud ekspesi naluriah kemanusiaan yang melampiaskan kegembiraan, manakala sang anak telah berhasil melaksanakan sunah Rassull, sebagai bentuk jihad pula dalam menegakkan syariat islam. Adapun kerucut yang terakhir ini, sebagai symbol sudah terkelupasnya kulit yang menutupi kepala jakar”.
Kegembiraan yang tak terkendali, disadarkan kembali oleh sang badud, kemudian seluruh tim angklung badud, memainkan musik bribil, dengker & bangsower. Sang anak yang masih duduk di atas jampana, setelah turun dari pundak pembopongnya, sang anak disuguhi tarian semacam adu manis yang disusul dengan demo kuda lumping. “Hal ini saya maksudkan, manakala tarian semacam adu manis ini, sebagai symbol kedewasaan. Dimana sang anak harus melanjutkan keturunan. Dalam agama islam. Perkawinan adalah bagian dari separuh perjalanan, --menjalankan syariat islam. Sedangkan demo kuda lumping, saya maksudkan, --dimana hidup adalah lembah dan jurang yang harus kita maknai. Manakala hidup adalah rangkaian pelajaran yang harus dihayati untuk dimengerti”.
Suguhan tari-tarian pun usai dilaksanakan. Kemudian Sang Anak diarak kembali. Untuk menuju kediaman rumahnya. Oratorium pun selesai. Sebuah pertunjukkan yang syarat symbol itu, hasil dari revitalisasi, dikemas secara apik oleh Ismaya. Dengan alur kisah untuk memberikan pemahaman kepada para apresiator, dimunculkannya suara narator.
Percaya atau tidak, menurut Ismaya, pementasan yang cukup spektakuler ini, dipersiapkan hanya dalam waktu 10 hari saja. Dimana Ismaya mendapat tugas dari DISBUDPAR Provinsi JABAR yang bekerjasama dengan PUSLITMAS STSI Bandung, untuk mengadakan pelestarian budaya, pada jenis-jenis kesenian buhun yang hampir punah. Ismaya datang ke Kota Tasikmalaya tentu tidak sendirian, ia dibantu oleh Dadang Hriyanto (Sarjana Tari) dan Usman Suhana (Sarjana Karawitan). Sedangkan Ismaya sendiri, yang lebih terkenal sebagai penyair, ketimbang teaterawan, ia lulusan STSI dari jurusan Teater, program studi Penulisan. Inilah yang membikin decak kagum apresiator malam itu. Lain halnya, bila Ismaya lulusan program studi Penyutradaraan di Jurusan Teater. Ismaya yang membikin skenarionya sendiri, sekaligus menyutradarainya. (Red. --baca kompas 30 juni 2008)

Sejarah

Dalam bentuk aslinya, pada jenis kesenian helaran ini, hanya ada tim dogdog dan tim angkung yang dipimpin seorang badud. Manakala 1 buah trompet, dogdog ada 4 buah dan angklung ada 13 buah. Dimana 2 angkung disebut tilingtit dan 11 angklung disebut rowel. Adapun, iringan yang membawa beras dalam boboko, adalah keluarga si pengantin sunat. Sedangkan anak calon pengantin sunat di gandong oleh sang badud.
Badud di sini, tidak sembarangan badud, namun orang yang mempunyai kesaktian. Karena saat itu situasi masih dalam suasana belum merdeka, seni angklung badud ini dipimpin oleh sosok seorang pemberani yang kesehariannya selalu memakai busana khas, sehingga dijadikan sebagai kokolot/lengser yang bertugas memimpin arak-arakan tersebut, yang kemudian orang tersebut diberi istilah dengan sebutan badud. Kemudian pada perkembangannya jadi popular dengan sebutan Angklung Badud.
Dikatakan Ismaya, berdasarkan cerita dari Mak Icih (77 th), sebagai pewaris asli yang masih hidup: “angklung badud ini diciptakan oleh bapaknya Mak Icih (Aki Satimi), kemudian diturunkan pada mantunya, Abah Wadma (suami Mak Icih yang meninggal dunia pada usia 83 tahun di tahun 2004). Sebelum sampai pada kepemimpinan sekarang, Kang Unang Bolu, ada 3 pimpinan yang lupa lagi namanya. Menurut Mak Icih, Aki Satimi memperoleh ilmu silat dan musik angklung ini dari Nyi Ronggeng. Dan tidak menutup kemungkinan asal-usul kesenian yang dipimpin bapaknya di zaman dahulu adalah warisan dari Nyi Ronggeng, sebagai guru spiritualnya Aki Satimi. Sedangkan guru Nyi Ronggeng, Mak Icih tidak mengetahuinya secara pasti”.
Jenis kesenian helaran ini, disamping sebagai arakan pengantin sunat, pun di zaman dulu berpungsi sebagai penghibur lomba Layangan, Panahan dan arakan serta hiburan Kawinan.
Berdasarkan cerita Mak Icih yang kembali diceritakan Ismaya kepada penulis: “setiap malam selasa dan malam jum’at. Angkung & dogdog suka dikasih sesajen. Dan suka hidup sendiri (bermain musik) tanpa dimainkan oleh orang.
“Angklung ini ada 2 paket. Angklung di zaman kepemimpinan Aki Satimi, berbeda dengan angklung di zaman dalang Abah Wadma. Angkung yang mentas malam itu, adalah angklung di zaman Abah wadma. Dan dogdognya dari zaman Aki Satimi. Hanya trompetnya yang tidak asli. Dimana trompet tersebut, belum bisa diwariskan, oleh pemegang trompetnya di zaman Abah Wadma. Inilah yang membuat regenerasi seniman angklung badud tidak mudah, --karena harus dilakaukan pada keturunan seniman yang asli.
“Seperti yang dikatakan Mak Icih pada saya, hilangnya 1 paket angklung di zaman Aki Satimi, ketika itu, pada saat pagelaran 17 agustus. Dipinjam oleh warga desa, tempat kelahiran Aki Satimi. Namun angkung tersebut tidak pernah lagi kembali. Zaman genting di tahun 63, krisis ekonomi, --ketika aki Satimi mau meminta angklungnya kembali pada warga, angklung tersebut sudah jadi suluh dan orang-orang yang membakar angklung tersebut (sebagian orang yang masih hidup di zaman Aki Satimi yang membakar angklung tersebut menjadi suluh, untuk menyalakan hawu), kini menjadi tuli dan ada juga yang jadi buta. Seperti kena kutukkan. Wallahu a’lam.
“Menginjak kepemimpinan Abah Wadma, mantunya Aki Satimi; maka regenerasi angklung badud, harus pada keturunan yang asli. Jika tidak, maka angklung tidak mau berbunyi secara nyaring dan menggema, ketika ditabuh.” Wallahu a’lam.
Terlepas dari itu semua, revitalisasi yang dilakukan Ismaya dan soulmetnya (Dadang & Usman, cukuplah menohok. Manakala Tasikmalaya terkenal sebagai julukan kota Santri. Ismaya pun mengemas pertunjukkan kali ini dengan konsep dan symbol yang syarat islami pula.
Malam itu, dalam format Etalase Bambu 3, Program Taman Budaya Jawa Barat, Bandung, Selain angklung badud, ditampilkan pula jenis kesenian serupa. Hasil revitalisasi; Angklung gubrag dari Kabupaten Bogor dan angklung sered dari Kabupaten Tasikmalaya.
Angklung telah memberikan warna di berbagai kesenian tradisional di Jawa Barat. Sepertihalnya seni Angkung Badeng dari Garut, Seni Angklung Ujo dari Bandung. Seni Angklung Badud yang sempat menghilang ini, yang sudah direvitalisasi oleh Ismaya, adakah akan menghilang kembali? Apa tindak lanjut berikutnya DISBUDPAR JABAR umumnya, serta DISBUDPAR Kota Tasikmalaya hususnya, untuk melestarikan kesenian angklung badud ini yang konon usianya sudah mencapai ± 130 tahun?***1 juli 2008***

_______
sepenggal tulisan ini pernah dipublikasikan di majalah GONG
tulisan ini di ambil dari blog tomy.maulana.co.cc


Kalau yang di bawah ini. tulisan orang lain, --ditulis oleh Wartawan KOMPAS JABAR.



Lebih Lanjut..

Minggu, 25 Mei 2008

J A T U H

Cerpen: Lintang Ismaya

Patahan-patahan kata merangkai kalimat. Manakala kalimat demi kalimat merangkai makna untuk ditafsir. Sebelum huruf membunuh huruf.
Jatuh. Sebuah kata yang syarat makna. Bisa berarti jatuh dalam segala hal, tergantung kata demi kata yang menjadi aksesorisnya:
“Apa yang dikau lakukan ketika jatuh?”
“Terkadang marah, kesal bahkan mengumpat Tuhan segala?”
“Itulah hidup. Semestinya, kita senyum; bila mengalami hal tersebut. Jika dikau jatuh, --sesungguhnya ada sebuah jalan yang menjadi enigmaNya?”
Percakapan itulah, yang masih tersimpan rapi di dalam diaryku, beberapa tahun silam; ketika kami sudah mulai akrab. Ia seorang perempuan. Namanya Rab. Aku menyebut dirinya sebagai malaikat kecilku. Gadis cantik berparas keturunan Indo-Jerman. Lahir dan besar di tanah Sunda. Hobinya menulis puisi. Orang-orang menyebutnya sebagai penyair sensual nan sexy, senyumnya yang etnis, bikin gereget kaum lelaki bila beradu pandang dengannya.
Potongan hujan jatuh satu-satu
Menjadi bunyi. Merekahkan gairah
Yang nyaris layu dalam kalbu

“Hai, masih suka tidur di kampus? Besok aku akan datang jam 9 tepat. Dikau sudah bangunkan?” Sebuah SMS singkat aku terima.
“Tikus kampus maksudnya? Yap, aku tidur di UKM. Jam 9 aku sudah bangun kok? Aku tunggu ya?” Jawabku.
Rab? Aku baru sadar, bahwa SMS itu datangnya dari Rab. Aku pikir dia sudah melupakanku. Aku pernah membikin ia kecewa, --gara-gara SMS-SMS gelapku yang aku kirimkan padanya. Tujuanku bercanda. Tapi akhirnya dia tahu, siapa yang candainya selama ini. Susah memang, dia benar-benar pintar, di samping cantik, keibuan lagi. Rab, tahu persis gaya bahasaku. Itulah kemarahannya padaku. Sejak itu, kami jarang bertemu dan berkomunikasi, meski via SMS sekalipun. Rupanya Rab benar-benar membenciku.
Malam melayang jatuh
Bagai lembaran daun gugur
Angin tiris menggarisi sisa usia
“Tahun 2008”. Bibirku bergumam, seraya pandangan mataku jatuh pada almanak yang menggantung di dinding kamar (UKM), persis di atas meja yang menampung monitor komputer dan buku-buku. Teringat kembali akan Rab, ketika kami sering bertemu. Tak cukup banyak kenangan sih, sejujurnya. Tapi kenangan memang tak bisa dikuburkan:
“Bukan makanan yang masuk ke tubuh kita yang membikin kita sakit. Tapi ada pikiran-pikiran lain yang mengganggu organ tubuh. Lihatlah kini dikau punya tubuh? Kurus, garing. Ketika jatuh, janganlah terlalu didramatisir, yang membuat kita sakit dan menjerit tak berdaya; oleh siapa lagi diri kita diobati, kalau bukan oleh diri kita sendiri? Setidaknya sayangilah badan dikau, tidak kering seperti ini? Katanya dikau pernah jatuh. Kenapa dengan jatuh ini, dikau tidak bisa belajar dari kejatuhan-kejatuhan lampau, untuk mengatasinya?”
“Ini masalahnya lain Rab; aku sudah memplanning semuanya dengan sempurna?”
“Impian tak seindah yang dibayangkan. Dikau ingat itu?” Kilat jawabannya. Tanpa sempat untukku berpikir lagi. Selain mengumpat Sang Waktu:
“Tuhan tidak adil?”
“Eit… kenapa bilang begitu? Bukankah Tuhan Maha Pencemburu? Siapa tahu, saking fokusnya dikau pada sesuatu, akhirnya perintah Tuhan terlupakanlah, --oleh dikau?”
“Itu bagimu, yang tidak merasakan?” Pangkasku. Tak mau kalah. Sementara Rab hanya tersenyum tipis saja disepuh geleng-geleng kepala:
Kembali aku disadarkan oleh Rab, pada kejatuhanku yang entah untuk keberapa kalinya. Tahun 2005, benar-benar duka raya bagiku. Perempuan memang misterius. Sepertihalnya Rab, yang menjelma malaikat kecil; bagiku. Di sisi lain aku jatuh oleh seorang perempuan. Ia pergi meninggalkanku, dengan semua planning yang telah disusun dan disepakati secara bersama-sama. Kuharus relakannya pergi, walau aku tak mau.
Luka cinta, memang sulit untuk diobati secara cepat dan praktis. Tak ada obat yang paling mujarab, selain waktu, kasih sayang dan perhatian.
Meski menggoreskan luka di hati, kenangan demi kenanganku dengannya. Tak pernahku lupa. Terkadang aku suka senyum sendiri bila mengingatnya. Bening, nama perempuan tersebut. Banyak pelajaran yang aku dapatkan, selama merajut cinta dengannya, --memahami segala apa yang kami pandang. Memaknai hidup. Manakala hidup adalah rangkaian pelajaran yang harus dihayati untuk dimengerti. Meski kini, aku trauma untuk menyulam cinta dengan perempuan lain di luar Bening. Bening, --yang menorehkan luka mawar begitu dalam. Tersimpan di palung rasa.
Sejak saat itu, di kampus; aku terkenal dengan sebutan lelaki sepi dan dingin. Terlebih pada mahluk bernama perempuan. Walau Rab, sudah mengingatkanku; --akan tidak bolehnya memelihara keputus-asaan di kedalaman dada.
Matahari menyentuh miring
Menembus kisi-kisi jendela
Hangat dibingkai kicau burung
Dering HPku berbunyi. Bangunkanku dari dunia mimpi. Aku mengangkatnya. Terdengar suara merdu, mengusap pendengaranku:
“Aku sudah di depan mesjid. Dikau dimana? Sudah bangunkah?”
“Yap. Sudah bangun kok, makanya aku bisa angkat telephone?” Jawabku dengan full kebohongan. Padahal aku terbangun gara-gara dering HPku yang aku simpan, persis di pinggir telinga kiriku:
“Cepetan ke sini ya, aku tunggu di masjid?” Balasnya.
“Waduh gawat, mana Rab sudah berada di beranda masjid lagi? Ini hari minggu. Semua WC kampus dikunci. Satu-satunya sumber air ada di tempat wudlhu. Masjid. Ketahuan deh, aku baru bangun?” Bisik bathinku.
Langkah-langkah gelisah, aku susuri. Setelah sebelumnya aku kunci pintu UKM. Dari jarak ± 20 meter, aku sudah bisa melihat Rab, yang sedang berdiri di beranda masjid kampus. Semula aku mau memutar jalan, setelah aku melihat Rab, --aku mau memasuki WC masjid. Cuci muka maksudku. Namun badannya Rab keburu berbalik, matanya persis menatapku:
“Woi, baru bangun ya? Maaf aku ganggu? Wah dikau gemuk sekarang? Pipimu cabi, berdagu dua?” Sapanya, sambil mencubiti kedua pipiku, dengan buku-buku jari tangannya.
Tentu saja aku malu. Tak berkomentar. Setelah bersalaman, aku masuki tempat wudlhu, cuci muka kilat, menggunakan dua jari, jurus kuntau dadakan, membuang cileuh yang membikin lingkaran mini di kedua sudut bibir mataku.
Detik jam bergeser pelan
Di rambut umurku
Yang dirayapi Izrail
Di taman kampus. Kami habiskan waktu siang. Kami ngobrol kesana kemari. Rab terlihat layu. Tubuhnya yang molek nan seksi terlihat kering. Namun aura kecantikkannya masih mendomisili permukaan wajahnya. Senyum etnisnya yang khas belum sirna dari bibir tipisnya itu. Aku baru engeh, ada yang berubah dari tubuhnya, --sejak dari tadi ia datang.
Rab bercerita tentang sebab-sebab tubuhnya menjadi kurus:
“Aku, … kenapa aku bukan yang terpilih? Targetku untuk menikah tahun ini, ya di usiaku ini. Aku ingin menikah di usia ini? Dan bukan cuma itu, aku hancur segala-galanya Dom? Impian-impian yang lain pun musnah? Dikau pasti pahamkan? Kini aku jatuh?”
Aku tak buru-buru menjawabnya. Disamping sulit untuk berkata-kata. Rab yang kerap menjadi malaikat kecilku, bila aku sedang terjatuh. Kini, malaikat kecilku sedang terjatuh. Aku pandangi mata Rab, yang sedang berusaha menahan bendungan air garam yang bersarang di kedua klopak matanya, agar tidak bedah di hadapanku. Aku berusaha mengalihkan perhatian: Aku berlari, keluar dari gerbang kampus. Setelah sebelumnya pamit dulu. Aku pesan satu gelas susu tawar, secangkir kopi hitam dan beberapa batang rokok keretek dari kios depan. Pedagang kaki lima yang mangkal, di pinggir luar, persis dekat pintu gerbang kampus:
“Minuman datang… . Aku masih ingat cerita kecilmu dulu. Mudah-mudahan susu tawar ini, masih kesukaanmu di samping coklat?” Sambutku yang baru kembali dari kios.
Rab, menatapku dalam. Aku berusaha menolak sinar yang dipancarkan sepasang matanya ke arahku. Andai kau tahu Rab, sesungguhnya hati ini larut. Luka. Akan kisahmu itu. Bagaimana aku tidak hanyut akan kisahmu Rab. Aku pernah mengalaminya, meski sudah beberapa tahun lamanya. Bilamana kau masih mengingatnya, --bukankah kau yang kembali menyadarkanku pada realitas yang nyata? Sepasang cincin kawin. Satu rumah mungil yang aku beli secara kredit di sebuah bukit, yang aku siapkan untuk hidup bersama Bening. Raib sudah di tangan pengembang, tak sanggup lagi membayar cicilan. Bukan tak sanggup secara materi, tapi harapanlah yang membiarkan rumah itu melayang ditelan duka rayaku:
“Sebahagianya kegembiraan dan kesenangan yang kau dapat. Sifatnya hanya sementara dan sebetapa lamanya kau menyimpan luka, takkan bisa mengembalikan apapun yang sudah hilang darimu?” Sepontan pikiranku, terucap sudah di hadapan Rab.
“Apa dikau bilang?” Timpalnya.
Tak ada perkataan ulang, yang keluar dari rahim mulutku. Selain aku bercerita tentang kisah-kisahku, selama Rab masih menyimpan kemarahanya atas SMS-SMS gelapku. Selama Rab tidak mengunjungiku. Aku yang berbalik curhat. Aku yang mengabaikan kejatuhannya.
Kami yang duduk berhadap-hadapan. Diam-diam aku telisik seluruh tubuhnya dari ujung kaki sampai ujung rambut. Jejak-jejak kaki telanjang, menempel pada tanah, yang menyimpan hasrat mawar untuk tumbuh secara gaib. Cintakah aku padamu Rab? Sembuhkah aku dari kejatuhanku? Entahlah!
***apriltikampustamanbuaya2008**
Lebih Lanjut..

Rabu, 21 Mei 2008

UNTUK KAU BACA "side 1"

seberapa bahagianya hidup
yang
pernah kau rasakan
tetap berpatok pada ukuran semu
dan sifatnya tak abadi adanya
seberapa dalamnya kau simpan
dan kau kenang derita
tak'kan sanggup membawa kembali
sesuatu yang pernah hilang darimu
manakala hidup adalah rangkaian pelajaran
yang harus dihayati untuk dimengerti!

2008
Lebih Lanjut..

Sabtu, 29 Maret 2008

Roti Bakar

Tak terduga sebelumnya, temanku yang aku suka padanya. yang manakala dia juga marah padaku. Mengunjungiku di pagi hari sekira jam 9 tepat dia satroni aku di kota kembaraku. sesuai dengan SMS nya padaku. Dia datang tepat waktu dari kota kehidupan di masa kecilnya. Pas aku bangun tidur, hendak ke air, mandi niatku. Eh... dia udah datang. Malu aku dibuatnya. Mana aroma nafas dari mulutku bangun tidur belum terbebaskan dari kumur-kumur dan gosok gigi he...3x
Singkat cerita kami ngobrol di sebuah taman yang rindang mayung pohonnya. Pagi yang cerah se cerah wajahnya jika aku pandangi dia. semula kedatangan dia aku memang enggak nyangka banget. so dia super sibuk dan lagi marah besar padaku. Tapi Lain Ilalang Lain Belalang Alias bin Lain Waktu Lain Perkara. Memang dia sudah lama sekali tinggalkanku dan mungkin dia sudah lupa padaku. aku hanya tahu dari blog-blognya. tentang kabar dia sekarang-sekarang ini. aku hanya bisa membacanya tak bisa mengomentarinya. So dia marah banget padaku. Gara-gara photonya aku aplod secara diam-diam dan aku kirimi Puisi-puisi pendek via SMS pake no hp lain. Akhirnya dia tahu bahasaku. Dari sanalah kemarahannya memuncak padaku.

by the way atas asal-usul aku renggang padanya. sebenarnya aku sudah menaruh hati lama padanya. Sejak dia nasihati aku tentang broken hart. Bahkan jauh sebelum itu, ketika aku sutradarai dia di atas panggung teater. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa so dia udah punya gandengan bin gebetan yang keren. Akhirnya aku jatuh cinta pada teman se-kampusnya. Nah itulah yang ketika aku broken hart oleh teman sekampusnya dia datang nasihati aku sampai aku berpikir 180 derajat untuk kembali ke jalan hidupku yang dulu yang suka dengan dunia freelance.

Aku kembali menulis karya-karyaku. aku kembali pada dunia broadcash ku. ketika dia datang pun aku sedang memegang kamera untuk acara yang spektakuler. Diahdiri Gubernur Jabar. Aku salah satu tim peliputnya. Dan dia datang sambil memberi nasihat pada mataku yang sepi.

Itulah selintas pintas aku disadarkan dia.

Ok, kita kembali ke paragraph pertama. Dia datang dan curhat padaku. dia yang semua orang tahu kerap memberi penyemangat ke orang lain. Dia datang dengan segudang masalah. aku heran bin kaget dibuatnya. Enggak salah nich? Pikirku di hati. Dia yang kerap mencuri pandangan kaum adam bila sedang berkumpul. Pagi itu dia kelihatan murung. Sedikit kurus, namun aura kecantikan yang dipancarkan dari raut mukanya tetap saja terlihat dengan sempurna. Seperti biasa bila dia datang aku yang curhat. Pun ketika itu dia hendak curhat, eh aku yang blokir jalan dia untuk curhat. Aku yang bom bardir pikiran-pikirannya dengan pikiranku. aneh memang kenapa ya? Mungkin aku termasuk type orang jahat kalie? apa dikata nasi sudah menjadi bubur heueuh? Kudu dikumahakeun deui atuh? Itu juga pas aku nyadar ketika dia sudah ga ada dihadappanku.

Aku sadar kekeliruanku padanya tapi tiap kali dia datang dan sudah kebiasaanku sejak lama tiap aku curhat aku selalu dan kerap curhat padanya. Ya padanya. Dan dia sendiri tahu. Mungkin juga tidak tahu, tapi berdasarkan catatan otakku aku hanya curhat pribadiku padanya saja. Itulah kenapa aku memborbardir pikiran dia. Manakala dia sebelumnya mau membombardir pikiranku. Jahat aku heueuh? tapi itulah fakta. Aku kerap tenang bila sudah curhat padanya. Mungkinkah karena sifat dia yang sedikit egois namun menyimpan bakat ke ibuankah yang membuatku tenang? Entahlah. Atau Sang Waktu-lah yang sudah mengatur begitu jalan kehidupanku. Kali tiap aku punya masalah curhatku yang pertama kerap pada dia. Aneh memang. Goib. Mistik. Ajaib. Ada rasa keki memang aku lihat dia ketika aku yang jadi curhat. Itu terbukti ketika dia langsung mengeluarkan 2 tangkup Roti Bakar yang dibawanya ketika aku terus nyroscos bicara. Aku paham mungkin niat dia untuk menghentikanku biacara. Tapi aku terus saja bicara. Sambil melahap habis 2 tangkup Roti Bakar yang dibawanya itu. Tanpa aku sisakan sedikit pun untuknya. Jahat aku heueuh?

tapi itu fakta. Dan sekali lagi fakta.

Pagi itu dia cerita tentang hidup dan kehidupannya. Aku ingin nyatakan sesuatau yang terpendam selama ini padanya. Namun nyaliku kecil, bukan disebabkan canggung atau perbedaan prinsip hidup. Dan memang prinsip tiap orang pasti beda. Hanya misi dan misilah yang bisa sama?

Ada sisi dan faktor lain ketika aku takut utarakan perasaan dari hati yang paling dalam, diantaranya mungkin trauma yang manakala calon mertuaku dulu pernah tanya tentang dunia kerja tetapku. Aku yang suka hidup freelance. Jadi so aku ga berani kalau keluarga dia punya prinsip hidup dengan keluarga temannya dia yang udah bikinku cukup lumayan luka. Nanya tentang kerja tetapku.

Mungkinkah setelah aku bisa hidup dengan dunia tetapku, aku bisa nyatakan perasaan terdalamku padanya? Bukankah cinta tidak meminta yang lebih dari apa yang kita miliki? H...3x narsis aku heueuh? Jujur aku ingin kali nyatain perasanku padanya tapi ga bisa. Aku ingin dia menjadi sesuatu yang halal bagiku. O, Wahai Sang Waktu, ... Apakah aku terlalu berlebihan memimpikan semua ini? Aneh. Ajaib. Mistik. Bangun tidur aku ingat dia. Mimpi-in dia pun pernah. Apakah yang harus aku lakukan sekarang? Saat ini aku hanya bisa pasrah pada Sang Waktu yang biasa memainkan irama dan alur kehidupanku. Dia sutradara dan Pemain yang handal untuk semua makhluk ciptaanNya. Tapi ketika dibenturkan dengan Dzikir. Fikir dan Ihtiar, aku mentok lagi! Uh... berat ya hidup ini? Hanya ada jawaban klasik yang bikin aku tenang, namun kadang kerap mangkel di hati, -- bila jodoh takan ke mana. he...3x keki memang!***

Lebih Lanjut..

Sabtu, 15 Maret 2008

Bahasa Kamera Lebih Sensitive Ketimbang Bahasa Panggung

Sebuah pertunjukan apapun (khususnya teater) kerap memberi sebuah kabar dan katarsis, bagi si apresiatornya. An Ordinary Day sebuah teks drama karya Dario Fo (Italia) pada tanggal 30-31 Januari 2008 dipentaskan oleh kelompok Teater yang menamakan diri Behindtheactor’s dengan sutradara Asep Budiman. Di CCF the Bandoeng.
Dalam booklet pementasan, An Ordinary Day, cukup meriah oleh sambutan para kritikus sastra dan pengamat teater, seperti: Prof. Drs. Jakob Sumardjo, Benny Yohanes S.Sn. M.Hum, Wicaksono Adi dan Septiawan Santana K., secara domain, mereka memberi pengantar yang cukup menarik untuk lebih memahami/sebagai gerbang awal untuk menghayati alur isi naskah yang dibuat oleh Dario Fo. Dimana calon apresiator digiring dari berbagai arah pandangan/kacamata yang berbeda, untuk memahami isi teks drama An Ordinary Day. Hal ini tentu saja sangat langka khususnya di Indonesia, dalam sebuah pementasan teater, si calon apresiator, dengan disuguhi banyaknya kata pengantar (semacam catatan dramaturgi). Pementasan ini didukung oleh Yayasan Kelola dan Dewan Kesenian Jakarta.
Bukanlah karya pertama yang diusung oleh kelompok teater Behindtheactor’s, dengan sutradara Asep Budiman (Asbud), sebelumnya kelompok ini berhasil menghipnotis penonton dengan karyanya yang berjudul Fatum, Hellego Helero, Humanus Balonitus dan lainnnya. Jadi bukanlah factor keberuntungan, jika para pembicara di atas memberikan tulisannya untuk dimuat di booklet.
Namun pada pementasan kali ini, sangat disayangkan dengan keterjebakkan konsep visual yang diterapkan Asbud dalam konsep penyutradaraanya kali ini, mengapa demikian? Ini tercermin dari sikap penonton yang lebih asyik menyaksikan visual ketimbang aktor yang sedang beraksi di atas panggung. Hal inilah yang membuat penulis tertarik untuk mengomentari pertunjukkan ini.
Naskah yang dibuat Dario Fo, domain pada monolog/ soliloquy sang aktris dengan tokohnya Julia yang diperankan (Evi Sri Rejeki “Evi”). Disini pun Asbud rupanya kurang cermat dalam meng-kesting, mengapa yang jadi Julia bukan Dewi Hikmah Wulandari (Dewi) disini Dewi berperan sebagai Katie. Tentu saja hal ini sangat berpengaruh, ada yang dilupakan oleh Asbud, ketika Julia (Evi) bermain-main dengan Frame kamera yang dioprasikkannya sendiri, dan gambar hasil rekaman kamerannya secara langsung dimontasekannya kembali via Proyektor, untuk dikonsumsi apresiator. Inilah kekurang telitian Asbud, bahwasannya bahasa kamera tidak sama dengan bahasa panggung, dalam kamera yang paling kuat untuk ditonjolkan adalah visual mimic, bukan visual verbal (kata-kata). Evi disini kurang mengusai visual mimic, ketimbang Dewi yang cukup pas secara intonasi verbal pun secara mimic, dimana kekuatan soliloquy sepenuhnya terletak pada kekuatan actor. Ada apa dengan casting?
Dari kekurangan ini, merambat pada pengambilan gambar Asbud yang memvisualkan sebuah adegan drama situasi dalam layar tv (boleh dibilang Sinetron) yang diperankan Nendah Herawati dan Latif Prayitna, yang seolah-olah adegan tersebut murni dari sebuah acara televisi yang sedang ditonton Julia (Evi), secara pengambilan gambar, frame demi frame yang disuguhkan kurang tepat dalam komposisi pengambilan adegan, dalam artian bahasa kamera, baik secara pengambilan angle master maupun angle close-up, dan angle two shoot. Inilah kekurang telitian Asbud dalam mengambil adegan tersebut. Asbud mungkin lupa, bahwa bahasa kamera lebih sensitive ketimbang bahasa panggung.
Ketika sebuah pementasan kehilangan daya dan warna, maka apa yang harus dimunculkan? Konsep Artistik yang dikerjakan oleh penata Artistik Roni Caronte dan Odzenk, secara domain, justru inilah kekuatan yang menutupi kelemahan para aktornya, disamping mewakili aura nafas teks drama Dario Fo, dengan tema besar naskah tersebut adalah manusia yang hidup (Julia) dengan penuh beban mental. Namun sangat disayangkan dalam pemilihan handprof, ketika adegan Perampok, pistol mainan (plastik) yang dipakai Latif Prayitna (Perampok I) dan Deni Kurniadi (Perampok II) kurang cermat, sehingga pistol-pistolan tersebut lepas (amburadul), jadi tidak utuh. Dan membuat adegan ini full improve yang semestinya tidak perlu (pada pementasan tanggal 30 januari 2008).
Multimedia yang dipercayakan kepada Yadi Mulyadi, secara visual fisik cukup berhasil, namun secara keseluruhan, saking berhasilnya visual tersebut, sehingga si apresiator lebih tertarik untuk melihat visual ketimbang dialog-dialog si tokoh utama Julia yang monoton dan kurang agresif dalam penghayatan peran. Padahal disinilah kunci kegelisahan Dario Fo berada, manakala dia menghasilkan teks drama yang berjudul An Ordinary Day.
Inilah, An Ordinary Day sebuah teks naskah karya Dario Fo yang menggiring kita pada pemaduan konsep teater modern dimana dalam pengadegannya, diperlukan kecermatan yang apik, untuk melahirkan kemasan yang tidak terjebak pada pemanggungan frame visual semata, namun logika dan ketepatan gambar dalam frame yang membingkai seorang Julia yang hidup dibawah tekanan/beban mental dikeseharian dalam lembaran hidup sehari-harinya, full iklan dan sandiwara di dalam sandiwara.
Bandung 31 Januari 2008. 22.30.02***
________________________________
(tulisan ini di muat di Majalah Gong Edisi Maret 2008)
______________________________________________
Doni Muhamad Nur, Pengamat (muda) Teater, Sutradara Teater, Sutradara Video Clip, Sinetron dan Companny Profile, Alumni STSI Bandung yang punya banyak nama pena, Rakean Wanen Ismaya. Lintang Ismaya, Naziah Zahra, Fauzan Nur Ulum, Dom Sayuri dan Mizuage Sayuri. Selain pengamat Teater, Doni pun seorang penulis, menulis Sajak, Liyrik Lagu, Cerpen, Esai, Laporan Reportase, Novel, Scenario Film dan Sinetron. Sejak tahun 1996, tulisannya tersebar di H.U. Kompas, H.U. Pikiran Rakyat, Gala Media, Majalah Sastra, Priangan, Jendela News Leter, Buletin Sastra Puitika, Daundjati. Majalah Seni Budaya dll. Sempat jadi redaktur Khusus di Majalah Seni Budaya Bandung (2002-2004) dan penulis skrip dalam beberapa garapan sinetron, video clip, company profil dan iklan di PT Mega Cinema Production M-Pro. (200-2004 & 2007).
Lebih Lanjut..