Sabtu, 29 Maret 2008

Roti Bakar

Tak terduga sebelumnya, temanku yang aku suka padanya. yang manakala dia juga marah padaku. Mengunjungiku di pagi hari sekira jam 9 tepat dia satroni aku di kota kembaraku. sesuai dengan SMS nya padaku. Dia datang tepat waktu dari kota kehidupan di masa kecilnya. Pas aku bangun tidur, hendak ke air, mandi niatku. Eh... dia udah datang. Malu aku dibuatnya. Mana aroma nafas dari mulutku bangun tidur belum terbebaskan dari kumur-kumur dan gosok gigi he...3x
Singkat cerita kami ngobrol di sebuah taman yang rindang mayung pohonnya. Pagi yang cerah se cerah wajahnya jika aku pandangi dia. semula kedatangan dia aku memang enggak nyangka banget. so dia super sibuk dan lagi marah besar padaku. Tapi Lain Ilalang Lain Belalang Alias bin Lain Waktu Lain Perkara. Memang dia sudah lama sekali tinggalkanku dan mungkin dia sudah lupa padaku. aku hanya tahu dari blog-blognya. tentang kabar dia sekarang-sekarang ini. aku hanya bisa membacanya tak bisa mengomentarinya. So dia marah banget padaku. Gara-gara photonya aku aplod secara diam-diam dan aku kirimi Puisi-puisi pendek via SMS pake no hp lain. Akhirnya dia tahu bahasaku. Dari sanalah kemarahannya memuncak padaku.

by the way atas asal-usul aku renggang padanya. sebenarnya aku sudah menaruh hati lama padanya. Sejak dia nasihati aku tentang broken hart. Bahkan jauh sebelum itu, ketika aku sutradarai dia di atas panggung teater. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa so dia udah punya gandengan bin gebetan yang keren. Akhirnya aku jatuh cinta pada teman se-kampusnya. Nah itulah yang ketika aku broken hart oleh teman sekampusnya dia datang nasihati aku sampai aku berpikir 180 derajat untuk kembali ke jalan hidupku yang dulu yang suka dengan dunia freelance.

Aku kembali menulis karya-karyaku. aku kembali pada dunia broadcash ku. ketika dia datang pun aku sedang memegang kamera untuk acara yang spektakuler. Diahdiri Gubernur Jabar. Aku salah satu tim peliputnya. Dan dia datang sambil memberi nasihat pada mataku yang sepi.

Itulah selintas pintas aku disadarkan dia.

Ok, kita kembali ke paragraph pertama. Dia datang dan curhat padaku. dia yang semua orang tahu kerap memberi penyemangat ke orang lain. Dia datang dengan segudang masalah. aku heran bin kaget dibuatnya. Enggak salah nich? Pikirku di hati. Dia yang kerap mencuri pandangan kaum adam bila sedang berkumpul. Pagi itu dia kelihatan murung. Sedikit kurus, namun aura kecantikan yang dipancarkan dari raut mukanya tetap saja terlihat dengan sempurna. Seperti biasa bila dia datang aku yang curhat. Pun ketika itu dia hendak curhat, eh aku yang blokir jalan dia untuk curhat. Aku yang bom bardir pikiran-pikirannya dengan pikiranku. aneh memang kenapa ya? Mungkin aku termasuk type orang jahat kalie? apa dikata nasi sudah menjadi bubur heueuh? Kudu dikumahakeun deui atuh? Itu juga pas aku nyadar ketika dia sudah ga ada dihadappanku.

Aku sadar kekeliruanku padanya tapi tiap kali dia datang dan sudah kebiasaanku sejak lama tiap aku curhat aku selalu dan kerap curhat padanya. Ya padanya. Dan dia sendiri tahu. Mungkin juga tidak tahu, tapi berdasarkan catatan otakku aku hanya curhat pribadiku padanya saja. Itulah kenapa aku memborbardir pikiran dia. Manakala dia sebelumnya mau membombardir pikiranku. Jahat aku heueuh? tapi itulah fakta. Aku kerap tenang bila sudah curhat padanya. Mungkinkah karena sifat dia yang sedikit egois namun menyimpan bakat ke ibuankah yang membuatku tenang? Entahlah. Atau Sang Waktu-lah yang sudah mengatur begitu jalan kehidupanku. Kali tiap aku punya masalah curhatku yang pertama kerap pada dia. Aneh memang. Goib. Mistik. Ajaib. Ada rasa keki memang aku lihat dia ketika aku yang jadi curhat. Itu terbukti ketika dia langsung mengeluarkan 2 tangkup Roti Bakar yang dibawanya ketika aku terus nyroscos bicara. Aku paham mungkin niat dia untuk menghentikanku biacara. Tapi aku terus saja bicara. Sambil melahap habis 2 tangkup Roti Bakar yang dibawanya itu. Tanpa aku sisakan sedikit pun untuknya. Jahat aku heueuh?

tapi itu fakta. Dan sekali lagi fakta.

Pagi itu dia cerita tentang hidup dan kehidupannya. Aku ingin nyatakan sesuatau yang terpendam selama ini padanya. Namun nyaliku kecil, bukan disebabkan canggung atau perbedaan prinsip hidup. Dan memang prinsip tiap orang pasti beda. Hanya misi dan misilah yang bisa sama?

Ada sisi dan faktor lain ketika aku takut utarakan perasaan dari hati yang paling dalam, diantaranya mungkin trauma yang manakala calon mertuaku dulu pernah tanya tentang dunia kerja tetapku. Aku yang suka hidup freelance. Jadi so aku ga berani kalau keluarga dia punya prinsip hidup dengan keluarga temannya dia yang udah bikinku cukup lumayan luka. Nanya tentang kerja tetapku.

Mungkinkah setelah aku bisa hidup dengan dunia tetapku, aku bisa nyatakan perasaan terdalamku padanya? Bukankah cinta tidak meminta yang lebih dari apa yang kita miliki? H...3x narsis aku heueuh? Jujur aku ingin kali nyatain perasanku padanya tapi ga bisa. Aku ingin dia menjadi sesuatu yang halal bagiku. O, Wahai Sang Waktu, ... Apakah aku terlalu berlebihan memimpikan semua ini? Aneh. Ajaib. Mistik. Bangun tidur aku ingat dia. Mimpi-in dia pun pernah. Apakah yang harus aku lakukan sekarang? Saat ini aku hanya bisa pasrah pada Sang Waktu yang biasa memainkan irama dan alur kehidupanku. Dia sutradara dan Pemain yang handal untuk semua makhluk ciptaanNya. Tapi ketika dibenturkan dengan Dzikir. Fikir dan Ihtiar, aku mentok lagi! Uh... berat ya hidup ini? Hanya ada jawaban klasik yang bikin aku tenang, namun kadang kerap mangkel di hati, -- bila jodoh takan ke mana. he...3x keki memang!***

1 komentar:

acafiraja mengatakan...

Di doa keun cu...